Toleransi Lagi


Jilbab, jenggot dihujat habis-habisan karena dituduh sok kearab-araban atau budaya onta…

Namun kini dirimu membisu ketika Muslim dan Muslimah dipaksa dan terpaksa memakai topi sinterklas…

Apa topi sinterklas itu budaya lokal Indonesia? Lalu kenapa jadi sok kafir ?

Dulu saat Ramadhan, kamu berkata, “Hormatilah kami yang tidak berpuasa.” Umat Islam yang berpuasa disuruh menghormatimu.

Saat mau Natal, Umat Islam jugalah yang wajib menghormatimu. Umat Islam harus pakai atribut Natal, harus mengucapkan Selamat Natal. Jika kami tidak mau, engkau tuduh kami intoleran bahkan rasis.

Lalu toleransi macam apa ini??? Mau menerapkan gaya tirani dan standar gandakah….

Toleransi artinya kita tidak mengganggu ibadah dan perayaan agama lain tapi tidak perlu juga didukung apalagi memberi ucapan selamat…

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku…

Harusnya non Muslim tak perlu marah ketika dijuluki kafir karena itu ajaran agama kami…

Dan tentunya saya juga takan pernah marah bahkan riang gembira ketika saya dijuluki sebagai domba yang tersesat karena memang itu ajaran agamamu…

Dan kita bisa hidup damai dan berbisnis tanpa saya harus mengotori akidah…

————————————-

Indah nya saling mengingatkan. Menjelang NATAL…
⚪ Muslim: “Bagaimana natalmu..? ”
⚫ Robert: “Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku..??”
⚪ Muslim: “Tidak. Agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu. Tapi urusan ini, agama saya melarangnya..!!”
⚫ Robert: “Tapi kenapa..?? Bukankah hanya sekedar kata-kata..? Teman-teman muslimku yg lain mengucapkannya padaku..??” .
⚪ Muslim: “Ooh mungkin mereka belum faham dan mengerti. Oh ya bisakah kau mengucapkan dua kalimat Syahadat Robert”?
⚫ Robert: “Oh tidak, saya tidak bisa… Itu akan mengganggu Keimanan saya..!”
⚪ Muslim: “Kenapa?? Bukankah hanya kata-kata toleransi saja ? Ayo, ucapkanlah..!!”
⚫ Robert: ” Ok ok..sekarang, saya faham dan mengerti..”

————————————-

Selain haram mengucapkan selamat hari raya natal juga haram mendekati peribadatan mereka apalagi ikut merayakan…

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم

“Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.”

Umar berkata,

اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم

_“Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” _

Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724.

“Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu) karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak”. (QS Maryam: 90-91)

Tidak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya murka Allah karena menuduh Allah memiliki anak. Allah yang memiliki sifat mukhalafatu lil hawadits (berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya) disamakan, menyerupai mahkluk-Nya yg lemah dan hina, yang justru diciptakan untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya. [QS.51/56]

Untuk itu, Allah menegaskan dalam Alquran surat [Al-Ikhlash ayat 3-4]; ”Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya.”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.