Tag Archives: pendusta di benarkan

Orang jujur di dustakan, pendusta di benarkan

Telah benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sebelum hari kiamat akan ada tahun-tahun yang penuh penipuan. Orang jujur didustakan, orang dusta dibenarkan, orang yang amanah dikhianati dan ar-Ruwaibidhah pun ketika itu turut berbicara.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Di dalam hadits lain disebutkan siapa itu Ruwaibidhah,
“Orang-orang dungu yang ikut berbicara dalam urusan umum.”

Apakah kita akan melupakan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang dengan tegas menunjukkan kekafiran kaum Nasrani?
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan kaum musyrik berada di Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya. Mereka itu adalah sejelek-jeleknya manusia.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Dan barang siapa memilih selain Islam sebagai agamanya, tidaklah akan diterima; dan di akhirat dia akan merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Perbedaan antara kafir dan iman tentu saja perbedaan dari sisi akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan urusan agama lainnya. Seorang muslim tidak boleh menutup mata dari perbedaan-perbedaan ini, apalagi sampai mendakwahkan bahwa “tidak ada perbedaan” antara Islam dan non Islam.

Padahal di antara sifat-sifat orang munafik yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam al-Qur’an ialah,
“(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai pembela-pembela selain kaum mukminin. Apakah mereka ingin mencari kekuatan, padahal kekuatan semuanya hanya milik Allah.” (QS. An-Nisa: 139)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Maknanya, mereka pada hakikatnya bersama orang-orang kafir tersebut, saling berloyalitas. Mereka menyembunyikan rasa cinta mereka kepada orang kafir di hadapan kaum mukminin. Saat bersama orang-orang kafir, mereka berkata, ‘Sebenarnya kami bersama kalian. Kami hanya mempermainkan orang-orang yang beriman’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/264 cet. Maktabah as-Shafa)

Kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari segala kesesatan, yang lahir dan yang batin.

Wallahu waliyyut taufiq.

Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar