Perkara yang Menggugurkan Amalan

Saudaraku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla…

Berikut kami sampaikan, salah satu perkara yang membatalkan amalan:

RIYĀ

(Yaitu) beramal shalih dengan mengharapkan pujian dan penghormatan kepada manusia.

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian ialah syirik kecil.”

Mereka (para shahābat) bertanya: “Apakah syirik kecil tersebut wahai Rasūlullāh?”

Jawab Beliau, “Riyā”.

(HR Ahmad dengan sanad yang shahih)

Dalam hadits lain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟) قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ إليه

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang perkara yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian dari pada fitnah Dajjāl?”

(Para shahabat) menjawab: “Tentu, wahai Rasūlullāh.”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Syirik kecil (tersembunyi), yaitu ketika ada seorang berdiri kemudian dia shalat kemudian dia bagus-baguskan shalatnya tatkala dia tahu ada orang yang melihatnya sedang shalat.”

(HR Ahmad)

Orang ini menghiasi & memperpanjang ibadahnya serta mengindahkan lantunan bacaan Al Qurān nya bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tetapi karena supaya dipuji oleh manusia.

Oleh karenanya, Saudaraku yang dirahmati Allah Subhānahu wa Ta’āla…

Sungguh menyedihkan kondisi orang yang riya’, (yaitu) yang beramal shalih karena ingin dipuji oleh manusia:

Dia lebih mendahulukan untuk memperoleh pujian manusia dan meninggalkan pujian Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dia lebih mementingkan ganjaran dunia dan meninggalkan ganjaran akhirat.

Dia tidak mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi dia mengagungkan manusia yang penuh dengan kehinaan.

Dia berharap mendapatkan ganjaran di dunia dengan pujian dan meninggalkan ganjaran yang Allāh berikan di akhirat.

Maka diantara perkara yang membahayakan yang bisa menjerumuskan orang dalam riya’ (ingin dipuji) yaitu:

“Perbuatan sebagian orang yang sering memposting atau menunjukkan amalan ibadah dia.”

Tatkala dia berhaji, dia memfoto dirinya.

Tatkala dia di Ka’bah, dia memfoto dirinya.

Tatkala dia sedang berdo’a, dia foto dirinya.

Tatkala dia sedang membaca Al Qurān, dia foto dirinya.

Kemudian dia pajang di media-media sosial.

Seandainya niatnya untuk memotivasi, (maka) alhamdulillāh.

Tapi dikhawatirkan niatnya hanyalah untuk dipuji atau dikomentari, untuk memamerkan ibadah dia.

Sama seperti orang yang berhaji, kemudian hanya untuk dipanggil “Pak Haji”, rugi!

Dia sudah mengeluarkan uang puluhan juta dan menanti masa penantian untuk bisa berangkat haji, lantas hanya ingin supaya bisa dikatakan “Pak Haji” supaya dihormati masyarakat.

Maka amalan dia tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena dia melakukannya bukan ikhlas karena Allāh tetapi karena riyā. Dan di akhirat kelak Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghinakan orang-orang yang riya’.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang riyā:

اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.

“Pergilah (mintalah) pahala kepada orang-orang yang dahulu kamu harapkan pujiannya, apakah kalian akan mendapatkan balasan?”

(HR Ahmad)

⇒ Jawabannya, tentu tidak.

Kita berlindung kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dari kesyirikan dan segala macam bentuknya..

 

Sumber: TausiyahBimbinganIslam

Leave a Reply

Your email address will not be published.