Menjadi bukan Merasa

Manusia sering tertipu dengan apa yang terlihat dan terlintas dibenaknya.

Orang menganggap kita sudah benar-benar baik.

Orang memberi kita gelar seorang ‘alim nan shalih.

Tapi hanya kita dan Allah yang tahu hakikat keimanan kita.

Kita dihormati, disanjung dan dipuji-puji.

Hingga kita lupa hakikat keimanan sejati.

Hingga kita terlena dengan pujian dan menyebabkan bangga diri.

Ketika dicela sekali saja.

Kita sibuk mencari kesalahan mereka.

Mengumpulkan semua kejelekan mereka untuk disebarkan dimana saja.

Membandingkan amalan mereka dengan kita.

Yang akhirnya kita berkata : Si fulan itu sangat merugi. Sudahlah tak paham agama, prestasi akademiknya juga tak ada. Sibuk nasihatin kita.

Si fulanah itu bla bla bla.. Kerjanya cuma malas-malan, mau jadi apa nantinya.

Bahkan hal terkecil sekalipun akan kita koreksi bukan untuk diajak berbenah diri tapi untuk menunjukkan bahwa kita paling baik dari mereka.

Sampai kapan mau begini ?

Merasa shalih dihadapan makhluk dan illahi.

Berbangga diri dengan amalan yang belum tentu diterima.

Berbangga diri karna lebih dahulu mengenal agama dari mereka.

Padahal tidak ada yang dapat menjamin husnul khatimah saat kita mati.

Dan yang pasti, “Tidak ada yang menjamin surga bagi orang yang merasa shalih dan berbangga diri”

Allah tak pernah menjanjikan dan tak pernah menjamin surga bagi orang yang ujub dan menganggap dirinya suci

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Leave a Reply

Your email address will not be published.