Category Archives: Risalah Hidup

Ada tangan Allah disetiap langkah kita

Menerima takdir adalah jalan terbaik dariNya yang terkadang kita mentah-mentah menolaknya .

benci dan acuh terhadap rentetan sekenarioNya, banyak mengeluh “mengapa begini, mengapa begitu” dan sering lupa bahwa apa yang terletak dibalik semua takdir adalah yang terbaik untuk kita

lupa akan Allah adalah Perencana terbaik sepanjang masa, sedang kita hanya hamba yg sering tak terima meminta berbagai macam hal, padahal belum tentu terbaik untuk kita

baru sadar ketika tau nikmat dibalik sebuah ujian dan baru berterimakasih ketika nikmat yang diterima lebih besar dari pada apa yang kita inginkan sebelumnya

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

“La Tahla” ( Jangan Mengeluh )

Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ .

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q.S Al-Baqarah 286).

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Tiap yang berjiwa akan merasakan mati

Masa yang pasti datang, dan masa yang paling sering terlupakan akibat sering mengingat nikmatnya dunia…

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran:185].

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Belajar Ikhlas pada Siti Hajar

Siti Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Suami yang di kenal santun, penyayang dan berhati lembut ini, tidak sewajarnya melakukan tindakan aneh ini. Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tinggalkan kami di sini?”

Berkali kali dia ucapkan sementara Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, hingga dia tersadar untuk mendapat jawaban suaminya maka kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit,:

“Apakah Allah yang perintahkan kamu seperti ini?” ………………..

Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah.

Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim…

Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. .

Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terkesiap. ………….. Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas,

“Iya!”……..

Ini perintah Allah. …….

Hajar berhenti mengejar. dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin. “Jikalau ini perintah dari Allah, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Allah pasti akan menjaga kami.” ……

Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. …..

Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. …….

Peristiwa Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan.

Itulah ikhlas,

Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan yang sangat kuat kepada Allah

Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Hajar dan perginya Ibrahim?” Padahal hajar adalah seorang wanita, tetapi dia tidak ribet di mana kita…….. Alam semuanya tertunduk pasrah bersama Malaikat, butir pasir dan angin.

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah