Category Archives: Risalah Hidup

Merubah Penampilan

Jika kita baru hijrah, baru ngaji, baru mulai serius mendalami agama, dan meninggalkan teman-teman, komunitas, hobi dan lingkungan yang tidak baik, maka ada baiknya kita juga ubah penampilan.

Karena penampilan luar itu mempengaruhi batin. Syaikhul Islam dalam Iqtidha Shiratal Mustaqim mengatakan:

 

المشابهة في الظاهر تورث نوع مودة ومحبة ، وموالاة في الباطن ، كما أن المحبة في الباطن تورث المشابهة في الظاهر ، وهذا أمر يشهد به الحس والتجربة

 

“Penyerupaan penampilan dalam lahiriyah akan menimbulkan unsur kecintaan dan kesukaan serta loyalitas di dalam hati. Sebagaimana juga kecintaan dalam hati akan menimbulkan penyerupaan dalam lahiriyah. Ini adalah perkara yang bisa dirasakan oleh indera dan terbukti oleh pengalaman”.

Misalnya, kalau baru taubat dari menjadi pecinta musik, anak band, anak dugem, maka setelah hijrah ubahlah penampilan, jangan berpenampilan seperti anak band tapi “islami”.

Baru taubat dari menjadi preman, maka setelah hijrah ubahlah penampilan, jangan berpenampilan seperti preman tapi “islami”.

Karena lama-kelamaan akan muncul kembali kecintaan pada maksiat yang ditinggalkan. Karena penampilan luar akan menjalar ke hati.

Ubahlah penampilan seperti penampilan orang-orang shalih, karena dengan demikian akan muncul kecintaan kepada ketaatan dan kepada orang-orang shalih, walaupun belum termasuk orang shalih.

Semoga Allah beri hidayah

 

By Yulian Purnama

Jangan Takut Walau Berbeda Sendiri

Kenapa harus takut sendirian??

Lihatlah nasehat Ibrâhîm bin Adham rahimahullâhu : Dahulu saya di perut (rahim) ibuku seorang diri
Lalu aku pun keluar (dilahirkan) ke dunia seorang diri
Kelak akupun mati seorang diri

Aku dikuburkan juga seorang diri
Aku ditanya (diuji) juga sendirian
Dibangkitkan dari kuburku juga seorang diri

Saya pun dihisab juga sendirian

Jikalau aku masuk surga, aku masuk seorang diri
Apabila aku masuk neraka juga sendirian

Di kondisi tersebut, Tidak ada seorangpun yang bisa memberiku bantuan
Maka masing masing dengan urusannya sendiri ( Îqâzhul Himam Syarh Matan al-Hikam karya Ibnu Ajîbah (I/176)

Jika anda benar, maka jangan takut jika anda sendirian… [Penulis: abusalma. net]

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,:

بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء

“Islam berawal dalam keadaan asing dan akan kembali terasing seperti awalnya. Beruntunglah al-ghuraba’ (orang-orang yang terasing).”

Al-‘Allamah Ibnu Baz رحمه الله mengatakan,
“Makna hadits ini adalah, Islam berawal sebagai sesuatu yang asing, sebagaimana demikian keadaannya di Makkah dan di awal masa hijrah di Madinah. Tidak ada yang mengenalnya dan mengamalkannya kecuali sedikit orang. Kemudian Islam tersebar, manusia memeluknya dengan berbondong-bondong, hingga Islam mengalahkan seluruh agama yang ada. Islam akan kembali menjadi asing di akhir zaman sebagaimana awalnya. Tidak ada yang benar-benar mengenal Islam kecuali sedikit orang. Tidak ada yang mengamalkan Islam dengan cara yang disyariatkan (Allah dan Rasul-Nya) melainkan segelintir orang saja. Mereka itu lah orang-orang yang terasing”

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Penyabar Miliki 3 Ciri Ini

  • SABAR memang suatu ungkapan yang mudah untuk diucapkan namun sulit di lakukan. Pasalnya, sabar itu membutuhkan ketenangan batin jika ingin bisa melakukannya. Segala masalah di hadapi dengan kepala dingin dan selalu ikhlas atas apa yang terjadi. Tetapi, kita tahu bahwa diri kita ini memiliki nafsu, yang seringkali menguasai diri kita.
  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan betapa banyak nabi yang berperang di dampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintiai orang-orang yang sabar,” (QS. Al Imran : 146).
  • Terjemah Ali Imran ayat 146 menjadi tamparan bagi kita yang sering meledak dan gampang naik darah. Bagaimana tidak, zaman dahulu Nabi dan pengikutnya di uji dengan berbagai cobaan saat ingin beribadah. Sedangkan kita yang di beri kemudahan hanya bisa mengeluh dan meminta kemudahan.
  • Nah, kita harus bisa belajar seperti mereka yang selalu sabar dalam menghadapi segala tantangan kehidupan. Meski ujian itu terasa berat, yakinlah Allah akan mempermudah. Jika kita ingin menjadi bagian orang-orang penyabar, maka kita harus mengikuti ciri-ciri orang sabar. Ya, orang penyabar itu memiliki tiga ciri. Apa sajakah itu ?

1). Tidak Mudah Mengeluh

  • Seberat apa pun musibah yang kita dapatkan, baiknya kita bersabar dan tidak mudah mengeluh. Ingatlah kita masih punya Allah untuk bersandar dan mengadukan semua keluh kesah kita tanpa takut Dia berkhianat dan tidak bisa di percaya. Semua solusi yang di berikan-Nya merupakan solusi terbaik yang di butuhkan oleh kita sebagai seorang hamba.
  • Tidak mudah mengeluh juga mengajarkan kita untuk berusaha sampai batas kemampuan maksimum yang kita punya. Yakinlah Allah ada bersama kita, jangan apa-apa mengeluh, sakit hati sedikit langsung mengadu. Duh, kesabaran kita bahkan lebih kecil dari biji jagung tampaknya.

2). Pantang Menyerah

  • Orang sabar takkan peduli dengan rintangan yang dia hadapi. Sesulit apa pun medan yang akan dia tempuh, tabu baginya untuk mengeluh dan menyerah kalah.

3). Tidak Menampilkan Kesedihan di Muka Umum

  • Orang yang sabar enggan menampilkan kesedihan dan kegundahan yang dia rasakan di depan umum. Orang seperti ini bukan tidak ingin berbagi cerita tapi mereka lebih memilih menyimpannya sendiri dengan dalih tidak ingin menyulitkan saudaranya.
  • Sungguh mulia orang-orang yang memiliki ciri ini. Selain hidupnya terjamin tentram, dia juga memikirkan beban yang mungkin di rasakan saudaranya. Dia sering berpikir, bukan dirinya saja yang paling berdarah dan berjuang, bisa jadi orang lain juga. Tapi kita tak bisa melihatnya. Wallahu a’lam.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Tidak perlu menjelaskan kebaikan kita

Kita tak bisa membuat semua orang senang terhadap kita.
Sudah berusaha semaksimal apa pun, apabila hati dia memang tidak suka kita atau belum terketuk hatinya untuk menerima keberadaan kita, percuma.

Yang penting, apa yang kita lakukan tidak ada maksud menyakiti, teruskan.

Baik buruk perilaku manusia dan manusia, tergantung hati seperti apa dan siapa yang menilai.

Cukup sabarkan hati bahwa semua ini pasti ada pelajaran yang bisa kita petik untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.

Biarkan saja orang lain menilai diri kita, karena itu hak semua orang untuk menilai sesamanya.  jadikan masukkan bila itu membaikkan,
tetapi jangan sampai menggantungkan hidup pada penilaian orang. sebab hanya diri kita sendiri yang tahu apa niat dan tujuan hidup kita.
pastikan semua itu sebagai niat dan tujuan baik, sehingga kita bisa berfokus pada kebaikan yang kita perjuangkan.

Semoga kita semua tidak membiarkan penilaian orang lain mengganggu hidup kita

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah