Category Archives: Renungan Diri

7 Rahasia Ibu Yang Tidak Pernah Kita Ketahui

Naluri seorang ibu untuk buah hatinya memang bukan rahasia lagi. Seorang ibu tak akan pernah merasa lelah merawat anak-anaknya.

Bagi siapa saja, ibu adalah sosok perempuan yang paling menyayangi anak-anaknya. Sehingga mereka selalu berusaha terlihat bahagia di depan sang buah hati, meskipun banyak masalah yang harus dihadapi.

1]. KAMU MEMBUAT IBUMU MENANGIS BERKALI-KALI.

Dia menangis ketika dia tahu sedang ‘mangandung dirimu’ dan dia juga menangis ketika kamu ‘berhasil’ dilahirkan di dunia ini. “dia menangis bahagia” kadang juga menangis ‘ketakutan’. Dia turut merasakan kebahagiaan dan kesedihan denganmu. Sadar atau tidak.

2]. IBU SEBENARNYA HANYA MENGHARAPKAN POTONGAN TERAKHIR DARI SEBUAH KUE (MAKANAN)

Namun ketika dia melihatmu makan dengan begitu lahapnya, maka potongan kue untuknya pun diberikan padamu. “Makan saja nak, ibu tidak suka” begitu biasa jawabannya.

Tidak peduli perutnya sendiri sedang lapar, melihatmu makan dengan lahap saja sudah membuat dirinya merasa kenyang.

3]. MENGURUSMU ITU SEBENERNYA MENYAKITKAN.

Dia membawamu dalam perutnya selama 9 bulan dalam proses kehamilannya. Tentu saja itu menyakitkan.

Dia juga menggendongmu terus-terusan saat kamu masih bayi. Itu tentu saja merepotkan. Kamu menangis kelaparan dan tentu saja itu membuat ibumu kerepotan. Walaupun begitu, ibumu tidak akan pernah mengatakan itu kepadamu. Iya kan?

4].DIA SELALU TAKUT.

Dari saat kamu 9 bulan ada dalam kandungannya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melindungimu. Dia takut kamu ‘kelaparan’ dan dia takut kamu ‘salah makan’ dia juga takut kamu ‘tidak lulus’ sekolah. Dia takut dirinya tidak bisa memberikan ‘kebahagiaan’ kepadamu. Namun tentu ibu tidak pernah memberitahukan hal ini kepadamu. Karena dia tahu, dia tidak boleh terlihat lemah dan takut. Dia harus terlihat kuat di depanmu.

5]. DIA TAHU DIA BUKAN MANUSIA SEMPURNA.

Setiap harinya selalu ingin berusaha untuk menjadi ibu yang baik. Dia terkadang sampai membenci dirinya sendiri ketika ia tidak bisa menjagamu dengan baik. “Dia hanya ingin menjadi yang sempurna” Namun karena dia juga hanya manusia biasa yang tidak dari kesalahan. Dia hanya menginginkan yang ‘terbaik’ untukmu.

6]. DIA SELALU MEMPERHATIKANMU SAMPAI SAAT KAMU TERTIDUR.

Ketika kamu masih bayi dulu, kamu sudah tidak ingat kalau dialah yang selalu terbangun ketika kamu menangis. Untuk membuatmu tertidur lagi, ia melakukan apapun sebisanya. Mulai membuatkanmu susu hingga menyanyi untukmu. Terkadang lengannya juga sangat lelah karena selalu menggendongmu ketika kamu sering rewel baik disiang dan malam hari. Punggungnya juga terkadang sakit tapi dia tidak pernah melepaskanmu hingga kamu diam dan tertidur kembali.

7]. BAGINYA, KAMU ADALAH HAL YANG PALING UTAMA.

Dia pergi tanpa makan, tanpa mandi, dan tanpa tidur. Dia selalu mencoba untuk memenuhi semua kebutuhanmu dibandingkan kebutuhannya sendiri.

Dia juga akan menghabiskan sepanjang harinya untuk memenuhi kebutuhan kamu. Dan pada akhirnya ia tidak akan memiliki energi untuk mempersiapkan kebutuhannya sendiri. Dan di hari berikutnya, dia akan tetap bangun dan melakukannya lagi. Karena kamu ‘sangat berarti’ baginya.

#NOTE: Rahasia ibu diatas tentu menjadi pembelajaran bagi kita sendiri untuk selalu patuh dan berbakti kepada ‘Ibu’ kita. Pengorbanan ibu kepada kita tidak akan pernah mampu kita balas dengan harta apa pun di dunia ini.

Akhir kata , Semoga disisa usia ibu kita, kita semua mampu membahagiakan hati Ibu. Dan semoga juga ibu kita dikaruniai sisa usia yang barokah dalam kesehatan dan umur yang panjang. AAMIIN…!

Dan tak lupa pula, semoga kita semua mampu menjadi ibu yang baik yang bisa menjadi contoh, teladan dan juga inspirasi bagi anak-anak kita. Yang mampu mengantarkan anak-anak kita menjadi anak yang sukses dunia akhirat. Dan juga mampu menjadikan anak yang sholeh sholehah yang selalu patuh dan berbakti pada kedua orangtua. INSYA’ALLAH….!

Aamiin3x Ya Robbal’alamiin…..

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Pedagang hewan qurban & Gubuk reot


Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yang itu berapa Pak?”.

“Yang itu 700 ribu bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibuu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…… . “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.

Sayapun mengantar hewan qurban tersebut sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.

“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu,”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Pemutus Segala Kenikmatan Dunia

Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membicarakan tentang #kematian kepada para sahabat, sementara kondisi hati mereka hidup. Ini sangat berbeda dengan realita sangat ini. Betapa banyak acara yang dibuat, upaya yang dirancang untuk mengalih perhatian dari kematian. Padahal kita sangat membutuhkannya untuk menyadarkan kita dari kelalaian dan melunakkan hati yang sudah mengeras !! Kalau kita mau menjawab dengan jujur, Siapakah yang lebih butuh terhadap pembicaraan tentang kematian, kita ataukah para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jawabnya, tentu kita.

Kematian adalah peristiwa yang memutuskan seluruh kesenangan dan mengubur seluruh angan-angan. Kematian berarti berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kematian memutus kesempatan beramal, dan mengantarkan ke gerbang hisab!

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehati kita dengan nasehat yang menyentuh. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu”. [HR. ath-Thabrani dan al-Hakim. Lihat Shahîh al-Jâmi’ush Shaghîr: no. 1222; Shahîhut Targhîb, no: 3333]

Mengingat kematian itu dapat menghidupkan hati. Orang yang benar-benar malu terhadap Allâh Azza wa Jalla tidak akan melalaikan kematian serta tidak akan meremehkan persiapan menghadapi kematian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

“Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allâh!”. Kami mengatakan, “Wahai Rasûlullâh, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah)”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu kepada Allâh adalah engkau menjaga kepala dan isinya, menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan.

Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu kepada Allâh Azza wa Jalla”. [HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662; Syaikh al-Albâni rahimahullah menyatakan ‘Hasan lighairihi, dalam kitab Shahîhut Targhîb, 3/6, no. 2638, penerbit. Maktabah al-Ma’ârif]

Mengingat kematian itu memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan jiwa dari kelalaian. Kematian merupakan pelajaran terbesar. Seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah pelajaran yang paling berpengaruh?” Dia menjawab, “Melihat tempat orang-orang yang mati”. Ahli zuhud yang lain mengatakan, “Orang yang tidak berhenti dari kemaksiatan dengan (nasehat) al-Qur’ân dan kematian, seandainya gunung-gunung bertabrakkan di hadapannya, dia juga tidak akan berhenti!” Sungguh, ziarah kubur, menyaksikan jenazah, melihat orang sekarat, merenungkan sakaratul maut, merenungkan wajah mayit setelah matinya, akan mengekang jiwa dari berbagai kesenangannya serta akan mengusir kegembiraan hati.

Orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian, dia akan beramal dengan sungguh-sungguh dan memperpendek angan-angan.

Al-Lubaidi berkata, “Aku melihat Abu Ishâq rahimahullah di waktu hidupnya, selalu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya. Ketika dia telah wafat, aku melihat kertas tersebut, ternyata tertulis padanya ‘Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat !! Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat !!! ’

Saudara-saudaraku, kehidupan di dunia ini terbatas waktunya. Dia pasti akan berakhir. Orang-orang shalih akan mati, begitu juga orang-orang jahat. Orang-orang bertaqwa akan meninggal, begitu juga yang bergelimang dosa.

Para pahlawan dan mujahid, para penakut dan orang yang lari meninggalkan medan jihad, semua akan mati. Orang-orang mulia yang hidup untuk akhirat dan orang-orang tamak yang hidupnya hanya untuk kesenangan dunia, semuanta tak akan luput dari kematian. Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi atau hidup hanya untuk syahwat kemaluan dan perut, semuanya pasti dicabut nyawanya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman : “Semua yang ada di bumi itu akan binasa”. [ar-Rahmân/55: 26]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. [Ali Imrân/3:185]

Semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Ia merupakan hakekat, namun kita selalu berusaha lari darinya. Kematian merupakan hakekat, yang bisa menjungkalkan : Keangkuhan orang-orang yang sombong, Penentangan orang-orang yang menyimpang, Kezhaliman para thagut yang mengangkat dirinya sebagai tuhan yang harus ditaati.

Ketahuilah, semoga Allâh menjagamu, orang yang hidup pasti akan mati … dan orangyang mati akan hilang (dari kehidupan) … dan semua yang akan datang pasti akan tiba waktunya …

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allâh, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allâh itu, pasti datang”. [Al-Ankabut/29: 5]

Wahai saudaraku, kehidupanmu yang hakiki akan mulai setelah kematianmu. Persiapkanlah segala sesuatu untuk bekal menjalani kehidupanmu yang sebenarnya. Amal kebaikan, itulah bekal menghadap Allâh Azza wa Jalla. [Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari makalah berjudul Ablaghul ‘Izhaat, karya syaikh Khalid ar-Raasyid]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah]

Apa yang pantas kita sombongkan ?

Walaupun hidup kita bergelimang harta selama hidup di dunia namun harta yang tidak dipergunakan di jalan Allah hanyalah akan ditinggal mati

Di dunia punya baju mewah, kelak pakaian kita setelah meninggal dunia adalah kain kafan

Di dunia punya kendaraan mewah, setelah meninggal dunia kendaraan kita adalah keranda mayat

dan ketika di dunia kita punya rumah mewah, namun setelah meninggal dunia, rumah kita hanyalah liang lahat 2 x 1 x 2

Renungan

By: #indonesiatauhid