Category Archives: Kisah Islam

Dimana Kau Berpihak

Dahulu saat Nabi Ibrahim Alaihissalam dibakar oleh Raja Namrud, datanglah burung pipit yang bolak balik mengambil air dan meneteskan air itu diatas api yang membakar Nabi Ibrahim Alaihissalam

Cicak yang melihatnya tertawa. “Hai pipit, bodohnya yang kau lakukan itu. Paruhmu yang kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja. Manalah mungkin bisa memadamkan api itu..”

“Wahai cicak, memang tak mungkinlah aku bisa memadamkan api yang besar itu. Tapi aku tak mau jika Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah cintai di zhalimi… Allah tak akan melihat hasilnya apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tapi Allah akan melihat dimana aku berpihak..”

Cicak terus tertawa…

Dan sambil menjulurkan lidahnya ia berusaha meniup api yang membakar Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Memang tiupan cicak itu tiada artinya, tak menambah besar api yang membakar Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Tapi Allah melihat dimana ia berpihak..

Hikayat ini terjadi sekarang..

Saat Alquran dibenci dan dihinakan si kafir zholim.. Aku bertanya padamu hei orang yang mengaku muslim..

Dimana kau BERPIHAK ?

Sungguh memang pendapatmu tak akan mengubah sedikitpun takdir Allah. Tapi Allah akan mencatat dimana kau berpihak…

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah.

Agama ini telah sempurna

Dari Thariq bin Syihab ia berkata :

Seorang laki-laki dari kaum Yahudi datang kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, dan ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sebuah ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya, andai ayat itu turun kepada kami orang-orang Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari (turun)nya itu sebagai perayaan.”

Umar bertanya, “Ayat yang manakah itu?”

Ia membaca,

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah ayat 3)

Umar berkata, “Sungguh kami mengetahui hari itu dan tempat yang diturunkannya dia kepada Nabi ﷺ, sementara beliau sedang wuquf di Arafah pada hari Jumat.”

(HR. Al-Bukhary dan Muslim).

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Walau Manusia Melakukan Dosa, Allah Tetap Memberinya Rezeki

  • PERNAHKAH kita berpikir bagaimana Allah tanpa pernah jemunya memberikan segala kasih sayangnya untuk kita ? Allah memberi apa-apa yang kita butuhkan tanpa pernah peduli dengan dosa dan maksiat yang setiap harinya kita lakukan. Sungguh Dia-lah Allah yang tidak pernah kehabisan cara untuk membahagiakan hamba-hamba-Nya.
  • Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada siapa pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang ia dengar di bandingkan (sabarnya) Allah. Manusia mengatakan bahwa Allah memiliki anak, namun Allah memaafkan mereka dan masih memberi rezeki kepada mereka.” (HR. Bukhari, no. 7378).
  • Guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak mengatakan dalam penjelasan kitab At-Tajrid Ash-Sharih, “Dengan sifat sabarnya Allah, Dia memaafkan orang yang mencela-Nya dengan mengatakan Allah memiliki anak dan Dia masih tetap memberikan rezeki pada-Nya.”

Kita selalu durhaka dan bermaksiat, namun Allah masih menyayangi kita karena tetap masih di beri rezeki. Sungguh tidak malu kah kita dengan segala dosa dan maksiat yang kita lakukan . Padahal setiap harinya Allah tidak pernah jemu melimpahkan kasih sayangnya pada kita

 

Sumber : https://rumaysho.com/

Hormati Orang tua (Ibu), Hidup Berkah

IBU merupakan sosok yang paling berharga dalam hidup kita. Adanya kita di dunia ini melalui jerih payahnya. Ia rela mengorbankan nyawanya untuk kita. Hanya untuk melihat kita merasakan dunia. Di mana, dunia ini menjadi perjalanan baru dalam diri kita. Tempat yang dijadikan sarana untuk memperoleh bekal untuk kehidupan yang lebih kekal.

Ketika ibu berhasil mengeluarkan kita dari rahimnya, pengorbanannya tak cukup sampai di situ. Ia terus merawat, membimbing dan mendidik kita. Hingga akhirnya kita bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Ingatkah kita di masa kecil dulu. Kita selalu ingin dekat dengan ibu. Dan walau dalam keadaan lelah, ibu selalu melayani kita dengan baik. Kita sering menyusahkannya. Tetapi, ibu tak menunjukkan kemarahannya. Bahkan, ia lebih menunjukkan kasih sayangnya yang begitu besar kepada kita.

Kini, kita mulai beranjak dewasa. Tingkah kita tak seperti anak kecil yang segala sesuatu harus meminta tolong pada ibu. Hanya saja, kita terkadang lupa kepadanya. Kita lebih asyik dengan dunia kita sendiri. Hingga kita lupa kewajiban kita terhadap orangtua, khususnya ibu. Padahal, sebagai seorang Muslim, Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk menaati keduanya. Kita harus patuh pada apa yang mereka perintahkan dan nasihatkan, selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Allah SWT menegaskan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya,” (QS. Al-Isra` [17]: 23).

Jika kita menghormati sosok ibu, maka kita akan merasakan perbedaan dalam hidup. Perbedaan seperti apa itu? Hidup kita akan terasa lebih berkah. Sebab, doa ibu pasti selalu menyertai kita.

Lihatlah orang-orang yang sukses dalam berbagai hal, baik itu dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan. Orang yang selalu berbakti pada ibu, ia selalu unggul daripada yang lain. Mengapa? Sebab, anak yang berbuat baik pada ibunya, maka nasibnya pun akan baik. Itu sudah menjadi ketentuan Allah SWT dalam hidup ini.

Maka, jika kita ingin merasakan keberkahan hidup, hormati dan sayangi ibu kita. Selagi ia masih berada di dekat kita, jangan sampai kita sia-siakan begitu saja. Pintalah ridha darinya. Sebab, ridha Allah SWT juga merupakan ridha orangtua. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Di mana sosok ibu tak dapat menemani perjalanan hidup kita di dunia

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah