Category Archives: Berita Islam

Al-Qur’an menjadi obat penawar

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat (kasih sayang Allah) bagi orang yang beriman..

[QS. Al-Isra’: Ayat 82]

“Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan perhatikan lah, agar kamu mendapat rahmat kasih sayang Allah”.

(Al-A’raaf ayat 204 )

. “Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah petunjuk, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Al-Quran itu semuanya indah. Untaian dan tutur katanya indah. Nasihatnya indah. Kisah-kisahnya indah. Janji dan peringatannya indah. Hukum-hukumnya indah.

Mengapa? Karena Al-Quran berasal dari Zat Yang Mahaindah. Maka, jika engkau senang dengan keindahan, carilah dia dalam Al-Quran. Al-Quran pun ibarat berlian yang mempunyai banyak sisi. Jika dipandang dari satu sisi, dia akan menampakkan keindahan tersendiri. Jika dilihat dari sisi yang lain, akan tampak pula keindahan yang lain.

Berlian ini pun senantiasa berkelipan sepanjang zaman. Hanya mereka yang mempunyai hati nan tulus, bersih, lagi haus akan nilai-nilai Al-Quran sajalah yang bisa menikmati keindahan ini.

“Hati bagaikan sebatang pohon yang disirami air ketaatan. Keadaan hati mempengaruhi buah yang dihasilkan anggota tubuh.

Buah dari mata adalah perhatian untuk mengambil pelajaran (dari apa yang dilihat). Buah dari telinga adalah perhatian terhadap Al-Quran. Buah dari lisan adalah dzikrullâh. Kedua tangan dan kaki membuahkan amal-amal kebajikan. .

Sementara, apabila hati dalam keadaan kering, buah-buahnya pun akan rontok dan hilang manfaatnya.

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

AURAT SESAMA WANITA

Dijawab oleh ust Yulian Purnama

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman mengatakan: “Telah tersebar anggapan di masyarakat bahwa aurat wanita di depan wanita lain atau di depan lelaki yg menjadi mahramnya adalah antara pusar sampai lutut. Ini adalah sebuah kesalahan

Yang benar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat An Nuur

ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن

Dan seorang mukminah tidak boleh memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka

QS. An Nuur: 31

Dan seterusnya Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang yang termasuk mahram

Oleh karena itu yang diperbolehkan adalah memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan

Sedangkan bagian tubuh yang bukan tempat perhiasan tidak diperbolehkan memperlihatkannya kepada orang lain kecuali suaminya

Hal ini berdasarkan keumuman hadits

المرأة عورة

Wanita adalah aurat

Misalnya rambut, ia adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya (kepada wanita dan mahramnya). Begitu juga leher adalah tempat perhiasan, maka maka boleh ditampakkannya

Demikian juga telapak tangan, dan betis serta betis yang biasa diberi khul-khul (gelang kaki), maka boleh ditampakkan

Sedangkan menampakkan paha, dada, punggung atau semisalnya di depan wanita lain atau lelaki mahram, adalah perkara yang diharamkan

Demikian juga tidak diperbolehkan memakai pakaian yg masih menampakkan aurat, semisal celana panjang yang ketat atau pakaian yang tipis, di depan lelaki mahram

Sebaiknya wanita muslimah di depan lelaki mahram menggunakan pakaian sebagaimana yang digunakan ketika beraktifitas di dalam rumahnya, semisal gaun wanita yang panjangnya melebihi lutut, atau memakai celana panjang dengan gamis di atasnya, sehingga mengesankan lututnya bersambung, atau pakaian semacam itu

Inilah rasa malu yg wajib dimiliki oleh setiap wanita dan dijaga baik-baik

Fatawa Syaikh Mayshur Hasan Salman, fatwa no.71, Asy Syamilah

Jazakumullahu khayran

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Sholat seperti orang mabuk

Bagi kita shalat adalah rutinitas yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sayangnya, rutinitas itu seringkali menjebak kita dalam aktivitas yang sekedar “gugur kewajiban” belaka. Maka, khasiat shalat sebagai pencegah segala bentuk kejahatan dan kemungkaran seringkali tidak tercapai.

Salah satu penyebabnya adalah karena sebagian dari kita sering shalat dalam keadaan seperti orang mabuk.

Sifat orang mabuk adalah bergerak, berbicara dan bertindak tanpa ada kesadaran. Orang mabuk tidak tahu apa yang diomongkan, bahkan mungkin tidak sadar kalau dirinya sedang ngomong. Gerakan tubuhnya pun acak tak terarah, tak jelas dan yang pasti, tidak disadarinya.

Jika kita shalat, tapi tanpa memahami apa yang kita ucapkan, tidak sadar dengan gerakan-gerakan yang sedang kita lakukan dalam shalat itu, maka kita seakan-akan orang mabuk. Apalagi, jika gerakannya pun muncul hanya sekedar reflek karena hafalan rutin, maka ibarat orang mabuk sedang senam saja.

Apa penyebabnya?

Karena pikiran kita tentang dunia masih berputar dikepala. Tubuh tegak berdiri dihadapanNya, namun hati dan pikiran jauh diluar sana.

Maka solusinya adalah, sholatlah dengan menghadirkan segenap hati dan jiwa kita dihadapanNya. Untuk sejenak, lupakanlah segala perkara dunia yang mungkin sedang kita kejar atau hadapi saat ini. Serahkan segalanya kepada Dia, sang Pengatur Segala Urusan. Tanamkan dalam diri bahwa segala kesibukan dunia, hanyalah selingan untuk menunggu datangnya waktu sholat.

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Sebab Allah selalu menolong hambanya

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176). Lihatlah saudaraku, bagaimana sampai membahagiakan orang lain dan melepaskan kesulitan mereka lebih baik dari i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan lamanya.

Al Hasan Al Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.” Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.” Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al Hasan Al Bashri, lantas mereka mengabarinya. Kemudian Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?” Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al Hasan Al Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang lain.[1]

Rajinlah membuat orang lain bahagia dan bantulah kesusahan mereka. Hanya Allah yang memberi taufik.

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah