Category Archives: Pos Islami

Dosa Durhaka pada Orang Tua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ .

”Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Di antara Bentuk Durhaka pada Orang Tua

’Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma berkata,

إبكاء الوالدين من العقوق

”Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka pada orang tua.”

Mujahid mengatakan,

لا ينبغي للولد أن يدفع يد والده إذا ضربه، ومن شد النظر إلى والديه لم يبرهما، ومن أدخل عليهما ما يحزنهما فقد عقهما .

“Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya.”

Ka’ab Al Ahbar pernah ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka pada orang tua, beliau mengatakan,

إذا أمرك والدك بشيء فلم تطعهما فقد عققتهما العقوق كله

“Apabila orang tuamu memerintahkanmu dalam suatu perkara (selama bukan dalam maksiat, pen) namun engkau tidak mentaatinya, berarti engkau telah melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya.” (Birrul Walidain, hal. 8, Ibnul Jauziy) .

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Jangan protes Qadarullah

Imam Ibnu Qudâmah al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Di antara sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah Dia Maha (kuasa) berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya dan tidak ada yang luput dari kehendak-Nya. Tidak ada sesuatu pun di alam ini yang lepas dari takdir-Nya dan semuanya terjadi dengan pengaturan-Nya. Oleh sebab itu, tidak ada seorang pun yang (mampu) melepaskan diri dari takdir yang ditentukan-Nya dan melampaui ketentuan yang telah dituliskan-Nya dalam Lauhul Mahfuzh. Dia Azza wa Jalla Maha menghendaki semua yang dilakukan oleh seluruh makhluk di alam semesta. Seandainya Dia Azza wa Jalla berkehendak menjaga mereka semua, niscaya mereka tidak akan melanggar perintah-Nya, dan seandainya Dia Azza wa Jalla menghendaki mereka semua menaati-Nya, niscaya mereka akan menaati-Nya. Allâh lah yang menciptakan semua makhluk beserta semua perbuatan mereka, menakdirkan (menetapkan) rezki dan ajal mereka. Allâh lah yang memberikan hidayah (petunjuk) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah[3]-Nya.”[Lum’atul I’tiqâd hlm. 114]

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata, “al-Qadar adalah apa yang Allâh Azza wa Jalla takdirkan secara azali (terdahulu) yang berkaitan dengan apa yang akan terjadi pada (semua) makhluk-Nya. Sedangkan al-qadhâ’ adalah ketetapan Allâh Azza wa Jalla pada (semua) makhluk-Nya, dengan menciptakan, meniadakan (mematikan) dan merubah (keadaan mereka). Ini berarti takdir Allâh Azza wa Jalla mendahului (al-qadhâ).”[Syarhul ‘Aqîdatul Wâsithiyyah 2/188]

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Al-Qur’an menjadi obat penawar

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat (kasih sayang Allah) bagi orang yang beriman..

[QS. Al-Isra’: Ayat 82]

“Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan perhatikan lah, agar kamu mendapat rahmat kasih sayang Allah”.

(Al-A’raaf ayat 204 )

. “Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah petunjuk, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Al-Quran itu semuanya indah. Untaian dan tutur katanya indah. Nasihatnya indah. Kisah-kisahnya indah. Janji dan peringatannya indah. Hukum-hukumnya indah.

Mengapa? Karena Al-Quran berasal dari Zat Yang Mahaindah. Maka, jika engkau senang dengan keindahan, carilah dia dalam Al-Quran. Al-Quran pun ibarat berlian yang mempunyai banyak sisi. Jika dipandang dari satu sisi, dia akan menampakkan keindahan tersendiri. Jika dilihat dari sisi yang lain, akan tampak pula keindahan yang lain.

Berlian ini pun senantiasa berkelipan sepanjang zaman. Hanya mereka yang mempunyai hati nan tulus, bersih, lagi haus akan nilai-nilai Al-Quran sajalah yang bisa menikmati keindahan ini.

“Hati bagaikan sebatang pohon yang disirami air ketaatan. Keadaan hati mempengaruhi buah yang dihasilkan anggota tubuh.

Buah dari mata adalah perhatian untuk mengambil pelajaran (dari apa yang dilihat). Buah dari telinga adalah perhatian terhadap Al-Quran. Buah dari lisan adalah dzikrullâh. Kedua tangan dan kaki membuahkan amal-amal kebajikan. .

Sementara, apabila hati dalam keadaan kering, buah-buahnya pun akan rontok dan hilang manfaatnya.

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين

“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin (salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang sholeh)”

(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17). .

 Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”.

Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.

🔸 Maksud kalimat “Assalamu ‘alainaa” menunjukkan seharusnya do’a dimulai untuk diri sendiri dulu baru orang lain. Sedangkan kalimat “wa ‘ala ‘ibadillahish sholihiin”, yaitu salam pada hamba yang sholeh, maksud sholeh adalah orang yang menjalani kewajiban, hak Allah dan juga hak hamba. (Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, 3: 186).

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah