Category Archives: Sejarah

Monumen Potocari di pinggiran Srebrenica Bosnia

 

Tanggal 11 juli, tepat 24 tahun yang lalu. Kisah memilukan ini terekam di memori umat. Kabar memilukan dari saudara-saudara seiman kita di Bosnia. Tercatat sekitar 8372 orang dibantai secara keji oleh tentara Serbia di pinggiran Srebrenica.

Hari ini 11 juli, di Monumen Potocari warga muslim Bosnia berbondong-bondong hadir untuk memperingati tragedi ini. Menyusuri jalan para korban yang dihabisi tanpa bisa melawan.

Tragedi ini disebut sebagai genosida warga sipil terburuk di Eropa sejak Holocaust Perang Dunia Kedua. Banyak sumber menyebut korban kekerasan di Bosnia ini total mencapai 100.000 orang. Sejauh ini baru sekitar 8.372 korban telah diidentifikasi dari ratusan kuburan massal yang telah ditemukan.

Jika kita membaca sejarah pada abad ke-13, Bosnia dulunya adalah negara dengan mayoritas Muslim. Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya.

Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok.
Kehidupan Muslim dengan nilai-nilai Islamnya lambat laun pudar di negeri Balkan. Diskotik dan bar muncul di setiap sudut kota. Tak ada lagi jarak antara Muslim dan non-Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, hingga merayakan hari-hari besar keagamaan. Semuanya membaur atas nama besar toleransi.

Di tengah keterlenaan mendalam umat Muslim Bosnia terhadap gaya hidup sekularisme dan toleransi agama yang berlebihan, bangsa Serbia yang mayoritas memeluk Kristen Ortodoks menyimpan api dalam sekam. Dengan dalih penyatuan kembali Yugoslavia dalam Republik Srpska, Serbia melakukan pembantaian terhadap Muslim Bosnia.

Sejarah mencatat aksi Serbia kepada umat Muslim Bosnia itu sebagai genosida terbesar pada masa modern. Pembunuhan dilakukan secara sistematis. Tujuannya menghapus sebuah bangsa dan etnik. Sekuler dan bergaya non-Muslim tak menyelamatkan Muslim Bosnia. Mereka dilenyapkan dan dibantai karena menyandang identitas agama Islam.

Cerita pilu yang mendera Bosnia sepatutnya mengingatkan kita umat muslim di Indonesia agar tidak terlena dalam penghambaan pada sekulerisme. Sebab, sekulerisme memiliki banyak wajah. Salah satunya adalah untuk menghilangkan warna, pengaruh, dominasi, dan hak-hak yang mayoritas.

Ketika Muslim mayoritas lemah karena krisis identitas, akan sangat mudah dipecah dan diadu domba. Di Indonesia sendiri, upaya agar Muslim meninggalkan identitas Islam dalam kehidupan berbangsa dan negara telah ada sejak dulu. Belakangan, gerakan itu mulai tampak di permukaan dengan sangat masif dan sistematis, bahkan oleh lembaga legal sekali pun. Karena itu, jangan heran jika ada Muslim yang sangat ngotot menghina agamanya demi membela kebebasan versinya.

Jangan heran jika ada Muslim yang ikut menghina ulamanya hanya karena ulama tersebut tak sepaham dengannya. Tidak heran jika banyak Muslim tak suka dengan tulisan-tulisan yang membahas penolakan Islam terhadap sekularisme. Inilah yang terjadi di Indonesia masa kini, negara yang masih dihuni oleh mayoritas umat Islam.

Belajarlah dari Muslim Bosnia yang saat ini menjadi lebih Islami. Di tengah dominasi masyarakat non-Muslim, mereka kini bangga memperlihatkan identitasnya sebagai seorang Muslim. Kenyataan pahit 11 Juli 1995 telah mengajarkan kepada mereka bahwa memisahkan ajaran agama dari kehidupan adalah awal mula malapetaka besar yang tiada akhir.

Semoga kita semua bisa mengambil ibroh dibalik peristiwa memilukan ini. Never Forget Srebrenica 1995.

Repost from *Brother Ichal Aydoğan

Fakta Sejarah, Sumbangan Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk Kemerdekaan Republik Indonesia

 

Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah enunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.
Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.
Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”
Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.
Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.
Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.
“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan.
Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya.
Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir.
Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.
Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir.
Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita
ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam.
Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat.
Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim
terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan.
Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munashoroh besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.
Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.
Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.
Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia.
“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.
Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan seakidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.
Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.
Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid.
Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.
Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab.Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.
Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya. Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”
Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.
Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.
“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!”  sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.
Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.
Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.
Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.
Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.
Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.
Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.
Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah.
Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.
Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.
Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.
Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.
Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.
Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.
Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.
Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.
Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia
Sumber : https://www.islamedia.id/2013/06/sebuah-sejarah-sumbangan-al-ikhwan-al.html?m=1

Perang Hamra ul Asad

 

Pernah dengar tentang Perang Hamra ul Asad?

Saat itu kekalahan di Perang Uhud menyisakan sesak. Sehari setelah Perang Uhud. Masih basah kuburan para syuhada. Belum kering luka tebasan pedang.
Di hari kedua, bakda Subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan kembali para mujahid Perang Uhud yang masih hidup untuk mengejar kembali kaum musyrikin Makkah.

Usaid bin Khudhair yang terluka dengan 70 titik di tubuhnya langsung menyambut seruan Rasulullah dengan semangat membara.

Bani Salimah, banyak yang terluka parah dari Perang Uhud, tapi saat mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menyambut seruan. Ketika dikumpulkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak kuasa menahan haru menyaksikan 40 mujahid Bani Salimah dengan luka yang masih basah.
Dalam isak.. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa
اللهم ارحم بني سلمة
Ya Allah.. Sayangilah Bani Salimah.

Tak hanya para sahabat yang terluka berat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dengan geraham yang masih berdarah dan mengangga.

Di Hamra ul Asad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat base camp sisa sisa pasukan yang terluka parah.

Bagaimana bisa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tega mengumpulkan para sahabatnya yang terluka dan babak belur untuk mengejar para pasukan?

Inilah strategi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menggetarkan musuh.

Rasulullah mempertimbangkan serangan susulan kaum musyrikin yang sudah merasa di atas angin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan membiarkan kaum muslimin dihantam kembali.
Karena kaum musyrikin sudah berniat untuk menghantam kembali dan menghabisi Madinah sekaligus.

Di Hamra ul Asad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk membuat api unggun hingga 500 titik banyaknya. Asap yang mengepul dilihat oleh kaum musyrikin yang saat itu sedang istirahat di Rauha.

Secara mental, kaum musyrikin belum siap untuk berperang sebegitu cepat sementara mereka melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat seperti para singa lapar yang terluka akibat kehilangan para kerabat.

Maka, mereka memilih untuk mundur dan lari kembali ke Makkah.

Hamra ul Asad adalah bagian dari strategi perang opini. Dari sini awal dari kemenangan sesungguhnya.
Maka jangan pernah sepelekan perang opini dalam kondisi apapun.

Saat ini media sosial adalah arena pertarungan opini. Hoax bertebaran.  Rekayasa berita merajalela. Blokade berita menghimpit semua sisi. Maka, jangan pernah lelah memerangi para pembuat dan penebar kebohongan, para penjungkirbalik fakta.

Lewat semangat Hamra ul Asad, siapkah kita menegakkan opini yang haq? Opini yang berpihak pada tata nilai kebenaran dan kejujuran.

Asah pena kita. Siapkan ‘amunisi’ berupa fakta dan data. Teliti berita dan menangkan pertarungan.

Sumber : https://www.ngelmu.co/hamraul-asad-dan-perang-opini/

Negara yang awalnya bernama “Persia” menjadi “Iran”

 

Dikutip dari Islampos.com

PADA 22 Maret 1935 pemerintah Iran mengganti nama negara yang awalnya bernama “Persia” menjadi “Iran.” Pada tahun yang sama, pemerintah Iran mengirim surat kepada Negara-negara lain yang memberitahukan bahwa “Persia” telah berganti nama menjadi “Iran.”

Saran penggantian nama tersebut datang dari duta besar Iran untuk Jerman, yang masih berada di bawah pengaruh Nazi.

Saat itu Jerman berada dalam cengkeraman demam rasial dan membina hubungan baik dengan bangsa-bangsa berdarah “Arya.” Dikatakan bahwa dubes Iran tersebut membujuk “Persia” agar segera ganti nama dengan munculnya Reza Shah. Dengan perubahan nama tersebut, Persia telah mengubah lembaran baru dalam sejarahnya dan telah melepaskan diri dari pengaruh Inggris dan Rusia.

Ini tidak hanya memberi sinyal awal yang baru dan membawa pulang dunia ke era baru dalam sejarah Iran, tetapi juga akan menandakan ras Aria dari penduduknya, karena “Iran” adalah tempat yang sama dengan “Aryan” dan berasal darinya.

Kementerian Luar Negeri Iran mengirimkan surat edaran ke semua kedutaan asing di Teheran, meminta agar negara itu mulai disebut “Iran.” Kehormatan diplomatik diwajibkan, dan nama “Iran” mulai muncul dalam korespondensi resmi dan berita.

Pada awalnya “Iran” terdengar asing (untuk non-Iran), dan banyak yang gagal mengenali hubungannya dengan Persia. Beberapa (Negara Barat) berpikir bahwa itu mungkin salah satu negara baru seperti Irak dan Yordania yang dibentuk dari reruntuhan Kekaisaran Ottoman.

Banyak pula yang berpikir “Iran” adalah sebuah negara di Afrika atau Asia Tenggara yang baru saja diberikan kemerdekaan; dan tidak sedikit orang yang bingung dengan Irak, yang merupakan entitas baru.

Seiring waktu berlalu dan sebagai sejumlah peristiwa, seperti invasi Sekutu Iran pada tahun 1941 dan nasionalisasi industri minyak di bawah Perdana Menteri Dr Mohammad Mosaddeq, sehingga menempatkan “Iran” dalam berita utama. Sehingga nama “Iran” menjadi diterima secara umum, dan “Persia” menjadi tidak digunakan.

SUMBER: IRANCHAMBER