Category Archives: Save Palestina

5 Fakta Memilukan Kehidupan Palestina di Bawah Jajahan Israel

 

PALESTINA telah dijajah Israel selama kurun waktu 60 tahun, dalam sepuluh tahun terakhir terisolasi dari dunia luar akibat blokade negara zionis tersebut.

Invasi dan blokade Israel sangat menyulitkan kehidupan warga Palestina selama ini. Berikut kami sajikan lima fakta memilukan kehidupan Palestina di bawah jajahan Israel seperti disitat dari MeMo.

Pertama, Krisis air.

Air merupakan hal yang sangat vital bagi kehidupan. Namun, pemerintah Israel menerapkan skema pembagian air di Wilayah Pendudukan Palestina, di mana warga Palestina memiliki akses terbatas terhadap sumber daya air di tanah mereka sendiri.

Konsumsi air di Palestina (di Tepi Barat) adalah sekitar 79 liter perkapita perharinya pada tahun 2014, sangat jauh di bawah rekomendasi WHO sebanyak 100 liter perkapita perhari untuk keperluan rumah tangga.

Israel juga menyita mata air, yang digunakan untuk irigasi dan tujuan rekreasi. Tiga puluh mata air Palestina berada di bawah kontrol penuh pemukim Yahudi ilegal, tanpa member akses untuk warga Palestina ke mata air itu. Selain itu, Palestina hanya memiliki akses parsial ke pantai Laut Mati, dan bahkan tidak diperbolehkan untuk pergi ke sana.

Kedua, Tak punya hak pilih.

“Tidak ada pajak tanpa perwakilan” sebuah prinsip yang dilanggar Israel dengan sistem kependudukannya, hal ini dilembagakan untuk membatasi kehidupan warga Palestina serta partisipasi politik mereka.

Sekitar 300 ribu warga Yerusalem Timur tidak dapat memilih wakil mereka di parlemen Israel, warga Palestina juga kesulitan mengakses fasilitas dasar publik meskipun mereka dikenakan pajak oleh negara. pencaplokan Israel dari Yerusalem Timur masih ilegal menurut hukum internasional.

Ketiga, Terampas tanahnya.

Israel secara de facto menerapkan kebijakan aneksasi melalui pemukiman ilegalnya. Ada sekitar 125 bangunan pemerintahan dan 100 pemukiman ilegal di Tepi Barat, yang merupakan tuan rumah bagi lebih dari setengah juta pemukim di OPT tersebut. Aneksasi ini adalah ilegal berdasarkan hukum internasional sesuai Pasal 49 dari Konvensi Jenewa Keempat.

Selain melanggar hak-hak dasar warga Palestina, pemukiman illegal ini mengeksploitasi sumber daya Palestina. Pemerintah Israel memperkirakan bahwa nilai barang yang diproduksi di pemukiman yang terletak di Tepi Barat dan diekspor ke Eropa adalah sekitar $ 300 juta dollar per tahun. Selain eksploitasi ekonomi, pemukim Israel secara teratur menyerang Palestina beserta properti mereka secara fisik tanpa menghadapi tuntutan pidana.

Keempat, Kebebasan yang terenggut.

Kebebasan bergerak dilanggar terus-menerus. Israel memisahkan sistem jalan, sehingga warga Palestina dilarang mengemudi dengan jarak lebih dari 65 km di Tepi Barat, dibatasi untuk penggunaan pemukim Yahudi.

Terlepas dari ratusan hambatan yang bermunculan secara ad hoc, ada 99 pos pemeriksaan tetap di Tepi Barat. Selain itu sepanjang 712 kilometer Tembok Aneksasi, menjadi simbol perwujudan pendudukan Israel. Sekitar 85% tembok pemisah telah dibangun di wilayah yang diduduki, bukan pada sisi Israel—dimana Gencatan Senjata diakui secara internasional (Green Line).

Kelima, Akses komunikasi terbatas.

Israel membatasi sektor komunikasi internet Palestina selama bertahun-tahun, penyedia layanan internet Palestina dilarang untuk menawarkan akses internet 3G, dengan dalih kekhawatiran keamanan. Kecepatan internet di Tepi Barat, merupakan yang paling lambat di dunia

Sumber : https://www.islampos.com/lima-fakta-memilukan-kehidupan-palestina-jajahan-israel-2328/

Kisah Pasukan Muslim Terakhir yang Membela Masjid Al-Aqsa

PALESTINA berada di bawah khilafah Ottoman selama empat abad lamanya, hingga kemudian Inggris menginvasi wilayah tersebut.
Dinasti Utsmani sendiri telah berjuang keras untuk mempertahankan Yerusalem dari serangan Inggris, sekitar 25 ribu pasukan syahid di medan pertempuran.
Akhirnya, mereka tidak punya pilihan lain selain menyerah. Gubernur Ottoman menuliskan keputusannya
“Bersebab beratnya penderitaan yang dialami negara ini, pengepungan kota serta ancaman senjata berat serta bom mematikan yang bisa menyerang tempat-tempat suci, kami terpaksa menyerahkan kota ini,”
Surat penyerahan kekuasaan itu ditandatangani oleh Izzat Mutasarrif dari Yerusalem.
ada tanggal 11 Desember 1917, Jenderal Inggris Edmund Allenby memasuki Yerusalem dengan berjalan kaki. Yerusalem setelah pertempuran itu berada di bawah kekuasaan Inggris, dan bertahun-tahun kemudian jatuh di bawah invasi Israel yang baru terbentuk.

Sumber: Ilmfeed.
https://www.islampos.com/kisah-pasukan-muslim-terakhir-yang-membela-masjid-al-aqsa-39794/

Zionis Israel Hancurkan Kantor Ismail Haniyah dan Hujani Gaza Dengan 100 Roket

 

Tentara Zionis Israel menghancurkan kantor kepala biro politik Hamas, Ismail Haniyah dalam serangan udara yang mereka lancarkan ke Gaza, Senin 25 Maret 2019.

Zionis Israel mengklaim, serangan tersebut adalah balasan atas jatuhnya roket pejuang Palestina di daerah utara Tel Aviv.

Kabar tentang serangan Israel tersebut dibenarkan oleh pihak Gerakan Perjuangan Islam Palestina (Hamas).

Pada saat serangan Zionis Israel terjadi, Ismail Haniyah tidak berada di kantornya. Sebab, ketika Hamas memantau situasi dan kondisi terkini di Gaza, lalu menyimpulkan ada kemungkinan serangan dari Israel, mereka akan mengosongkan semua bangunan milik pemimpin mereka secara rutin.

Sementara itu, juru bicara militer Zionis Israel menolak mengomentari berita yang beredar tersebut.

Beberapa media lokal melaporkan, sejumlah warga Palestina terluka akibat serangan pesawat Zionis Israel tersebut.

Sementara itu, banyak bangunan yang rusak parah di berbagai wilayah di Jalur Gaza.

Media setempat juga melaporkan, pesawat militer Zionis Israel menembakkan lebih dari 100 roket ke berbagai lokasi di Jalur Gaza.

Menanggapi serangan tersebut, Hamas menyatakan siap untuk berperang guna mempertahankan Gaza dari serangan Zionis Israel.

 

Sumber : https://www.fimadani.net/2019/03/pengecut-zionis-israel-hancurkan-kantor.html?m=1

Inilah Penampakan Khaibar-1, Roket Andalan Hamas yang Kerap Bikin Tentara Israel Kocar-Kacir

 

Dikutip dari islampos.com, DALAM melawan penjajahan dan kebiadaban Israel, pejuang kemerdekaan Palestina, Hamas, sering menggunakan roket andalan untuk menangkis serangan demi serangan.

Keempat roket andalan Hamas tersebut adalah Qasam, Grad, Farj-5/M-75, dan Khaibar-1. Di antara semua roket milik Hamas tersebut, Khaibar-1 disebut-sebut sebagai roket yang paling canggih.

Khaibar-1 memiliki daya lontaran paling jauh, yakni radius160 km. Ia mampu menjangkau Haifa yang terletak di utara Israel, bahkan Yordania.

Untuk diketahui, roket Palestina rata-rata menggunakan teknologi era Uni Soviet.

Sementara roket Qasam dan Grad memiliki daya lontar yang paling dekat—masing 17 km dan 48 km.

Satu kelas di atasnya adalah Fajr-5—kadang-kadang disebut M75—yang memiliki daya rusak cukup tinggi.

Roket ini memiliki panjang 6 meter, dan harus dikendalikan dengan sistem yang rapi supaya tidak bisa dipantau oleh drone-drone Israel.
Khaibar-1 memiliki spesifikasi mirip dengan M-302 milik Hezbollah.

Dari sekian roket-roket Hamas yang ada, Khaibar-1 dianggap yang paling mengancam Israel, terutama sipil, karena sifatnya yang sulit dikontrol.

Keistimewaan Roket “Rumahan” Hamas

Seperti diketahui, Israel membangun tembok yang mengungkungi kehidupan warga Palestina mirip tembok Berlin di era perang dingin.

Israel berdalih tembok tersebut sebagai pengaman mereka dari serangan pihak lain, terutama Palestina yang disebutnya sebagai biang keonaran. Meskipun pada faktanya, Israel sendiri lah yang menjajah tanah Palestina.

Warga Palestina yang masuk ke wilayah Israel untuk berbagai keperluan seperti bekerja, mengunjungi saudara, dan lainnya harus melalui pintu-pintu khusus yang dijaga oleh pasukan Israel bersenjata lengkap.

Selain itu, tembok digunakan sebagai tameng, contohnya dalam peristiwa The Great Return April lalu yang menewaskan puluhan warga Palestina yang sejatinya tengah melakukan aksi damai.

Mereka awalnya dilempari gas air mata dan ujung-ujungnya ditembaki, hingga puluhan warga sipil tak berdosa meregang nyawanya.
Guna melawan kebiadaban Israel, Hamas menerapkan strategi asimetrik dengan cara menembakkan sejumlah roket yang rata-rata buatan sendiri. Militer Israel benar-benar dibuat kelimpungan.

Daya gempur dari roket-roket berhulu ledak rendah itu memang tidak begitu menghancurkan tapi efeknya begitu luar biasa.

Serangan balik roket Hamas ke militer Israel yang secara psikologi mengguncang warga Israel, dimulai pada 2008 menggunakan roket-roket berbentuk kecil dan berdiameter 90-70 mm.

Jarak jangkauan roket yang dinamai Qassam itu sekitar 10 km dan jika menghantam sasaran hanya bisa menimbulkan kerusakan ringan. Tapi jika roket Qassam bisa tepat menghantam pom bensin atau depot bahan bakar lainnya, efek kerusakan yang ditimbulkan pasti luar biasa.

Roket Qassam sendiri sebenarnya mudah ditangkis, misalnya dengan rudal penangkis yakni rudal Patriot.

Namun, hal itu nampaknya tidak sepadan mengingat mahalnya harga satu rudal Patriot.

Militer Israel akhirnya menggelar sistem pertahanan udara antiroket Hamas, Iron Dome Missile Defense Syatem, tapi sistem itu tetap saja kurang efektif.

Dari 1.000 roket serangan balik yang diluncurkan Hamas, hanya 201 roket yang bisa dihancurkan di udara.

Berdasar hasil penyelidikan intelijen Mossad, pejuang Hamas terus meningkatkan kemampuan roketnya dengan cara mengembangkan atau mendapatkan roket dan rudal secara rahasia dari perbatasan Mesir.

Hasil dari peningkatan kemampuan roket Hamas juga sudah tampak karena hampir semua roket Hamas selalu jatuh di ibu kota Israel, Tel Aviv dan kota penting lainnya.

SUMBER: INTISARI