Bersedekahlah sebelum ajal tiba

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al-Munâfiqûn: 10)

Allâh Azza wa Jalla menghimbau kaum Mukminin untuk berinfak. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Mukminin untuk mengalokasikan sebagian dari harta kekayaan mereka dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla & menginfakkannya di jalan-Nya sebelum kedatangan ajal yang menyebabkan kekayaan menjadi tiada harganya bagi pemiliknya lagi. Perintah ini mencakup infak-infak yang wajib seperti zakat, membayar kaffarah, menafkahi istri & budak, juga mencakup infak-infak yang bersifat mustahab seperti berinfak untuk kemaslahatan umat.

Siapapun tidak akan merasakan memiliki harta ketika ia berada dalam kondisi sakaratul maut, karena dirinya terpaku pada dahsyatnya rasa sakit & ketakutan yang sedang dihadapi. Bahkan ketika dalam kondisi sakit, orang kaya pun tidak merasakan dirinya memiliki kekayaan yang melimpah. Maka, apapun akan diserahkan guna menyelamatkannya dari kondisi yang sulit itu (sakaratul maut). Apapun akan ditebus untuk mengobati penyakitnya. .

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan ada seorang lelaki mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bertanya, :Wahai Rasûlullâh, apakah sedekah yang paling besar pahalanya?”. Beliau menjawab: “Yaitu engkau bersedekah tatkala merasa sehat lagi bakhil, dan mengakhawatirkan kekurangan serta mengimpikan kecukupan” (HR. Bukhâri no. 1419 & Muslim no. 2382)

Pada saat kematian datang, jiwa-jiwa penuh dengan penyesalan & berharap mendapatkan pengunduran waktu ajalnya dan ini mustahil walau sejenak untuk bersedekah & beramal shaleh yang nantinya akan dapat menyelamatkan mereka dari siksa & memperoleh pahala besar. Namun permintaan & harapan ini sudah bukan pada tempat & waktunya lagi dan tidak mungkin mengalami perubahan.

 

Wallâhu a’lam .

Ustad Muhammad Ashim Musthofa

Leave a Reply

Your email address will not be published.