Berkibarlah Al Liwa dan Ar Royah!

Saat itu perang tengah berkecamuk di Medan Mu’tah. Dilihat dari sisi manapun, pertempuran ini sungguh tidak imbang. Bagaimana tidak 3.000 pasukan muslim mesti berhadapan dengan 200.000 musuh kafir Romawi. Jika ingin menang, 1 orang harus mampu mengalahkan 67!

Keadaan begitu genting, Zaid bin Haritsah ra mati-matian mempertahankan bendera Liwa’ itu tetap berkibar. Namun seolah membenarkan prediksi nabi, ia gugur, digantikan Ja’far bin Abu Thalib ra. Namun ganasnya kekuatan musuh kembali menggugurkan panglima kedua mujahid Mu’tah itu. Ia digantikan Abdullah bin Rawahah ra, yang juga syahid.

Siapa yang harus memimpin berikutnya, sementara Rasul hanya mewasiatkan 3 orang? Majulah Khalid bin Walid mengambil bendera. Waktu itu ia yang digelari Sang “Pedang Allah yang terhunus” baru saja masuk Islam.

Taktik cerdiknya menukar pasukan depan dengan yang belakang; pasukan kiri dengan yang kanan; lalu meringkikkan kuda-kuda di barisan terbelakang – menjadikan musuh ketar ketir.

Mereka mengira umat muslim mendapatkan pasukan tambahan. Banyak wajah-wajah baru. Dalam benak mereka, “dengan yang ada ini saja, kita kewalahan, bagaimana jika ada tambahan? Bagaimana jika Nabi mereka ada di tengah-tengah mereka?”

Musuh pun kocar-kacir. Kaum muslim memang tidak menang, namun mereka berhasil mempertahankan kedudukan tanpa sedikit pun mundur.

Ya bendera inilah – “Liwa dan Royah” yang dulu pernah menjadi penanda hidupnya Islam dalam jiwa muslim. Perlambang adidaya mereka. Hidup dan mati mereka.

Meski sempat mengasingkannya, bendera ini mulai kembali dikenali oleh umat Islam. Seolah menemukan harta karun peninggalan Rasulnya, betapa banyak kalangan yang kini bangga menjunjungnya.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Leave a Reply

Your email address will not be published.