Bagaimana mengamalkan agama

Kita hidup di zaman timbunan informasi menghujani pikiran, perasaan, dan hati kita. Saking banyaknya informasi, kita semakin tidak tahu bagaimana mengamalkan agama secara benar. Ada agama menurut madzhab. Ada agama menurut ormas seperti PERSIS, Muhammadiyah, dan NU. Ada agama menurut pemikir modernis, dan ada pula agama menurut kiai salafi. Lalu seperti apa pengamalan agama yang benar? Catatan ini menawarkan solusi singkat, berupa pegangan sederhana, semoga bermanfaat.

Agama mengajarkan tiga macam ajaran: perintah, larangan, dan hal-hal yang boleh (halal). Namun setelah mendapat intervensi pikiran (apakah pikiran madzhab, ormas, atau pemikir perorangan), perintah itu dipahami menjadi dua: perintah bermakna wajib dan perintah bermakna sunnah. Demikian pula larangan: ada larangan haram dan ada larangan makruh. Sementara ajaran halal dibiarkan begitu saja.

Pada tataran praktek, orang cenderung mengamalkan perintah yang wajib, sementara yang sunnah ditinggalkan. Demikian juga ajaran larangan: yang dihindari hanyalah yang haram, sementara yang makruh tetep jalan. Bahkan tak jarang yang haram ditawar agar jadi makruh dan yang wajib jadi sunnah. Sementara ajaran seperti makan, tidur, dan semacamnya diamalkan secara maksimum. Tidur sebanyak-banyaknya, atau makan sekenyang-kenyangnya.

Praktek yang dilakukan Nabi Muhammad saw.: Bila perintah, maka beliau amalkan semaksimum mungkin. Demikian pula bila larangan, maka beliau jauhi sejauh mungkin. Untuk ajaran halal, dilakukan secukupnya sekedar memenuhi kebutuhan. Misalnya, Nabi Muhammad sedikit tidur, sedikit makan dan lain-lain. Ini pengamalan agama yang ditinggalkan oleh Nabi kita Muhammad saw.

Mari kita tinggalkan “pikiran yang rewel.” Bila dalam pengamalan perintah misalnya kita tak mampu melakukan secara maksimum, dan larangan tidak bisa kita jauhi sejauh mungkin, dan yang halal tak mampu dipenuhi secukupnya atau seperlunya, mari kita beristighfar. Artinya kita masih lemah. Jangan mengintervensi dengan pikiran tak sehat. Misalnya berkata, “Itu sih tak wajib, cuma sunnah”; “Itu sih tak dilarang, cuma makruh”; “Yang ini sih, tidak larangan dan tidak pula perintah, ya semau kita.”

InsyaAllah dengan sikap semacam ini kita akan selamat dalam mengamalkan ajaran agama, dan insyaAllah dengan cara ini kita akan meraih, merasakan dan menikmati¬† “manfaat” dari pengamalan agama.

 

Oleh: KH. Syarqawi Dhofir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *