Makruh tidur setelah shalat subuh

Di antara hal yang makruh menurut para ulama adalah tidur setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit karena waktu tersebut adalah waktu memanen ghonimah (waktu meraih kebaikan) dan keberkahan yang banyak.

Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang shalih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk (bekerja malam), mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barakah (banyak kebaikan).” (Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah) .

makruh sebaiknya sangat dihindari

Dari ‘Urwah bin Zubair, beliau mengatakan, “Dulu Zubair melarang anak-anaknya untuk tidur di waktu pagi.” Urwah mengatakan, “Sungguh jika aku mendengar bahwa seorang itu tidur di waktu pagi maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya”.

(HR. Ibnu Abi Syaibah 5: 222 no. 25442 dengan sanad yang shahih).

Yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah setelah melaksanakan shalat subuh, mereka duduk berdzikir di masjid hingga matahari terbit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendoakan waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan. “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, Ibnu Majah no. 2236 dan Tirmidzi no. 1212)

Berdasarkan hal di atas, sebagian ulama salaf tidak menyukai tidur setelah shalat subuh.

Kesimpulannya, yang paling afdhol adalah menggunakan waktu pagi untuk aktivitas yang bermanfaat untuk dunia ataupun untuk urusan akhirat.

Bagi orang yang bekerja malam sebaiknya tidur setelah matahari terbit, sekitar jam 6 pagi ke atas (Fatwa Al Islam Sual Wa Jawab No.2063)

(Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah) .

Hindari bergadang yang tidak perlu..

Semoga kita bisa meraih keberkahan di waktu subuh dan pagi hari. Aamiin

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

TATA CARA MANDI JUNUB

Dari Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengguyurkan air ke seluruh badannya.”

 (HR. Bukhari : 248 dan Muslim : 316)

Dari Ibnu Abbas, bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu beliau menuangkan air dgn tangan kanannya ke tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya 3 kali dan mengguyur seluruh badannya. Selanjutnya, beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua kakinya (di tempat yang berbeda).”

(HR. Bukhari : 265 dan Muslim : 317)

Simpulan dari hadits diatas, urutan tata cara mandi sebagai berikut:

1 Menuangkan air dan Mencuci kedua tangan

2 Mengambil air dengan tangan kanan untuk mencuci kemaluan dengan tangan kiri. bisa dengan gayung

3 Menggosokkan tangan kiri ke tanah. bisa diganti dengan sabun.

4 Berkumur dan menghirup air ke dalam hidung, kemudian dilanjutkan dengan berwudhu, namun tidak sampai mencuci kaki.

5 Ketika mulai membasahi rambut, sela-selai pangkal rambut dan basahi dengan air. Sampai seluruh kepala dan rambut basah.

6 Siram kepala 3 kali, dilanjutkan dengan menyiram seluruh anggota badan.

7 Mengguyur air ke seluruh badan dengan mendahulukan yang kanan. Gosok dibagian tersembunyi dan pastikan semua badan basah.

8 Berpindah tempat, dan cuci kedua kaki. sela-selai jari kaki, cuci sampai seluruh kaki basah.

Sumber : https://konsultasisyariah.com/13751-cara-mandi-wajibhtml

Larangan minum sambil berdiri

Ada satu kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh kaum Muslimin. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa hal itu sebenarnya dibenci oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebiasaan itu ialah minum dengan posisi berdiri.

Meskipun tidak sampai masuk dalam kategori yang diharamkan, hendaknya seorang muslim sadar bahwa semua yang dibenci atau dilarang dalam agama ini hakikannya memiliki dampak negatif bagi diri kita. Sebaliknya, apa yang dicontohkan oleh Nabi dan disunnahkan oleh agama memiliki hikmah yang memberi manfaat untuk kita. .

Ilmu medis telah membuktikan bahwa minum dalam posisi berdiri tidaklah baik untuk kesehatan, karena air yang kita minum langsung menuju usus tanpa diproses lambung. Proses seperti ini sangatlah berbahaya!

Oleh karenanya, mari kita biasakan minum dengan duduk! Selain mencontoh Rasulullah dan bernilai pahala bagi yang meniatkannya, kebiasaan baik ini juga baik untuk kesehatan kita.

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Tanda Tanda Kiamat 2

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah hilangnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu seakan berjalan dengan cepat, timbul berbagai macam fitnah, Al haraj -yaitu pembunuhan- dan harta melimpah ruah kepada kalian.” .

[HR. Al – Bukhari No. 978]

Dalam Musnad Imam Ahmad, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk bersama para sahabatnya, di antaranya Salamah bin Nufail perawai hadits ini, beliau menyebutkan sebuah hadits yang di antara isinya; “Sebelum terjadinya kiamat akan terjadi kematian-kematian yang mengerikan, dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi.”

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah