Ini Hukum Tinggalkan Shalat Jumat

SHALAT jum’at adalah sebuah kewajiban bagi ummat Islam, khususnya laki-laki dewasa. Kewajiban ini dituangkan di dalam firman Allah, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,” (Al-Jumu’ah: 9).

Adapun kewajiban itu bagi kaum muslim laki-laki berdasarkan kepada hadis nabi; Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)

Dalil-dalil tersebut menunjukkan kewajiban melakukan shalat jum’at bagi lelaki muslim. Jika kewajiban itu ditinggalkan, maka ia mendapatkan dosa besar.

Kalimat Ummat Nabi Muhammad memiliki dua makna, ummat da’wah dan ummat istajabah. Ummat da’wah adalah semua orang yang hidup setelah beliau diutus sebagai Nabi dan Rasul. Sedangkan umat Istijabah adalah manusia yang hidup setelah kerasulan beliau dan memutuskan untuk menerima dakwah baliau. Pengeluaran seseorang dari ummat nabi Muhammad memiliki makna penetapan kekufuran seseorang.

Benarkah orang yang meninggalkan shalat Jum’at ia keluar dari agama islam, alias murtad? Mari kita tinjau hadis-hadis yang menerangkan bahayanya meninggalkan shalat jum’at, apalagi sampai tiga kali berturut-turut adalah, “Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali tanpa udzur dan tanpa sebab (yang syar’i) maka Allah akan mengunci mata hatinya,” (HR Malik).

“Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan mengunci mata hatinya,” (HR at-Tirmidzi).

Ibnu Abbas mengatakan : “Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali berturut-turut maka ia telah melemparkan ikatan Islam ke belakang punggungnya,” (HR Abu Ya’la dari kata-kata Ibnu Abbas).

Dengan memerhatikan hadis-hadis tentang meninggalkan shalat jum’at, kita temukan bahwa tidak ada nash yang jelas yang menunjukkan batalnya keimanan seseorang. Memang Ibnu Abbas mengatakan telah melemparkan tali Islam ke belakangnya, maksud dari kata ini bukanlah melepaskan agama Islam, tetapi melepaskan sebagian kewajiban di dalam Islam.

Terlebih bahwa ucapan itu bukan berasal dari Rasulullah saw sehingga tidak bisa digunakan untuk memastikan batalnya keislaman seseorang.

Dari sini, maka orang yang tidak menjalankan shalat jum’at tiga kali tidak dinyatakan sebagai orang kafir, apalagi kalau ia masih mau shalat yang lain.

Namun dalam sebuah kekuasaan Islam, hendaklah ulil amri (penguasa) memberi hukuman pula bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa ada uzur agar mencegah tindak kejahatan mereka. Hendaklah setiap muslim bertakwa pada Allah, janganlah sampai ia melalaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan. Jika seseorang lalai dalam demikian, maka ia akan menuai petaka dari Allah. Jagalah perintah Allah, niscaya pahala Allah akan diraih. Dan Allah akan beri karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Sumber (https://www.islampos.com/ini-hukum-tinggalkan-shalat-jumat-25110/)

Iman bertambah dan berkurang

Al-Iman yazid wa yanqus (Iman bertambah dan berkurang). Demikian sabda Baginda Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Majah, al-Baihaqi dan Ibn Hibban dari penuturan Abu Hurairah ra.

Dalam kitab Fath al-Bari li Ibn Rajab (I/5) dalam bab Al-Iman disebutkan, bahwa iman bertambah saat kita sedang mengingat Allah SWT sekaligus takut kepada-Nya. Sebaliknya, saat kita lalai dan lupa kepada Allah SWT berarti iman kita berkurang.

Terkait hadis di atas, dalam suatu kesempatan Imam ats-Tsauri menyampaikan bahwa beliau selama lima bulan tidak mampu mengerjakan qiyamul-lail. Menurut ats-Tsauri hal itu disebabkan karena dosa yang beliau kerjakan. Saat Imam ats-Tsauri ditanya mengenai dosa itu, beliau menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki menangis, sedangkan aku berkata dalam hati bahwa laki-laki ini menangis dalam rangka riya.” (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum ad-Din, IV/239).

Dari kisah di atas bisa diambil pelajaran bahwa perbuatan dosa bisa membuat seorang berat melakukan amal-amal shalih, di antaranya shalat malam. Kisah itu juga menunjukkan betapa pekanya Imam ats-Tsauri terhadap amalan hati. Karena amat pekanya, beliau memandang dosa su’uzhan sebagai sebuah perkara yang amat besar. Beliau memandang bahwa hal itulah yang menyebabkan beliau tidak mampu melaksanakan shalat malam.

Shalat malam adalah salah satu ibadah sunnah yang utama. Meski sunnah, shalat malam telah menjadi tradisi para ulama salafush-shalih. Namun demikian, amal dakwah merupakan kewajiban setiap Muslim tetap saja lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah, termasuk shalat malam. Maka dari itu, jika shalat malam yang sunnah saja sudah menjadi tradisi di kalangan ulama salaf, apalagi amal dakwah mereka, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini?. Jangankan yang sunnah seperti shalat malam, sebagian kita bahkan masih banyak yang meninggalkan amal dakwah. Padahal boleh jadi, ada yang sudah lama menjadi bagian dari sebuah harakah dakwah dan sering dijuluki sebagai aktivis dakwah. Boleh jadi semua itu karena kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa kita.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Bentuk rezeki salah satu nya

Dan di antara manusia, ada yang menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, dan pintu-pintu keburukan. Pembuka pintu kebaikan, adalah orang-orang soleh di sekitar kita yang selalu mengangkat kita kala terjatuh. Menasihati kita saat salah. Menyemangati di waktu lemah. Dan membimbing kita di dalam kebenaran. Cintai mereka, dan buat mereka mencintaimu. Merekalah penolongmu di dunia dan akhirat. Insya Allah.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah