Saat Diri Terlalai Dalam Waktu

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Saat Diriku Terlalai Dalam Waktu.

Aku tersesat dalam kelalaian, sedang kematian menuju ke arahku, kian lama kian dekat.

Jika aku tidak mati hari ini, suatu hari kelak aku pasti mati.

Aku manjakan tubuhku dengan pakaian-pakaian halus dan mewah.

Padahal tubuhku akan membusuk dan hancur dalam kubur.

Aku bayangkan tubuhku berangsur-angsur akan hilang, sedikit demi sedikit berkurang hingga tinggallah kerangka,tanpa kulit tanpa daging.

Aku melihat umurku kian habis.

Namun keinginan-keinginanku belum juga terpuaskan.

Perjalanan panjang terbentang di hadapanku.

Sedangkan aku tidak memiliki bekal untuk menempuh jalan itu.

Aku mendurhakai Tuhanku dan melanggar perintah-perintah-Nya dengan terang-terangan.

Padahal ALLAH mengawasiku setiap saat.

Aku menuruti hatiku dalam perbuatan-perbuatan yang memalukan.

Apapun yang telah terjadi tak dapat di hapuskan.

Dan sang waktu,bila telah berlalu tidak dapat ditarik kembali.

Wahai ALLAH Al-Alim.

Aku berdosa secara rahasia.

Tidak pernah orang lain mengetahui dosa-dosaku yang mengerikan.

Tapi esok, rahasia dosa-dosaku akan di tampakkan dan di perlihatkan kepada ALLAH.

Aku berdosa kepada-Nya,walaupun hati merasa takut.

Aku sangat percaya ampunan-Nya yang tak terbatas.

Aku berdosa dan tak tahan menanggung malu, tetapi aku bergantung kepada ampunan-Nya yang tak terbatas.

Seandainya tidak ada azab setelah kematian.

Tiada janji akan surga, tiada ancaman akan neraka.

Kematian dan kebusukan tubuhku cukuplah sebagai peringatan.

Tak di ragukan lagi,aku adalah yang terburuk di antara semua Hamba-hamba-Nya.

ASTAGFIRULLAH

Ya ALLAH,

Belas kasihanilah aku dalam kegelapan kesendirian dalam kubur.

Ketika aku di tinggalkan oleh segalanya.

آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

Semoga bermanfaat

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara

perkara

Terkadang kita mesti mengambil waktu istirahat meskipun tak menginginkannya | tersebab ada hak badan yang mesti dipenuhi. .

Memaksakan diri tetap melakukan kegiatan | dapat menyebabkan kita harus menghadapi keadaan tatkala badan terkalahkan lebih serius lagi.

Akan tetapi, menurunnya kondisi fisik bukan alasan untuk berhenti menebar kebaikan | ia hanyalah pertanda bahwa hak badan mesti segera terpenuhi

Terkadang kita perlu sakit untuk mensyukuri nikmat sehat | meski semestinya kita dapat mensyukuri sepenuh pujian kepada Allah setiap saat, di kala sehat maupun sakit. .

Seharusnya, kita tak perlu menunggu sakit untuk mensyukuri nikmat sehat | tapi manakala hati keras dan iman keropos, syukur nikmat justru berat .

Maka, kadang yang perlu kita lakukan justru memperbanyak syukur di saat sakit | tatkala datangnya sakit justru mengingatkan kita tentang berlimpahnya nikmat .

Kita bersyukur atas sakit yang membuat kita mengingat nikmat seraya memohon kepada Allah dari tercabutnya nikmat secara tiba-tiba

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Ngena bingit ilustrasinya. Buat orang tua yang “ngga tega” ngebangunin anaknya shalat subuh “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6). “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278). Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك “

Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.

” (HR. Al Hakim: 7679).

Begitupun Suami ke Istri atau Istri ke Suami kalau beneran sayang, pasti enggak akan ngebiarin pasangannya melewati subuh gitu saja. Terlebih ke anak anaknya.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Kesederhanaan Rasulullah SAW

“Sesungguhnya hamparan tempat tidur Rasulullah SAW terdiri atas kulit binatang, sedang isinya

adalah sabut korma.”(HR At-Tirmidzi)

Hafshah saat ditanya,“Apa yang menjadi tempat tidur Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Kain dari bulu

yang kami lipat dua. Di atas itulah Rasulullah SAW tidur. Pernah suatu malam aku berkata (dalam

hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi 4 lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu

kulipat empat lapis.”(HR At-Tirmidzi)

Manakala waktu subuh, cerita Hafsah, Rasulullah SAW mengatakan, “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku menjawab, itu adalah alas tidur yang biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat 4. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah SAW membalas, “Kembalikan kepada asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari.”(HR At-Tirmidzi)

Cerita tetang tempat tidur Rasulullah SAW pernah menyebabkan Umar bin Khatab menangis.

Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah SAW. Umar mendapati Rasulullah sedang berbaring di atas  tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras.

“Aku ucapkan salam kepadanya & duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku,” ujar Umar bin Khattab

Rasulullah yang mulia pun sampai bertanya kepada Umar, “Mengapa Engkau menangis, wahai Umar?” .

“Bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh

engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini.

Sedangkan Kisra & Kaisar duduk di singgasana emas & berbantalkan sutera”.

Lalu Nabi SAW berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan  hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas.Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat & meninggalkannya,” ujar Rasul SAW.

Semoga ini bisa menjadi cerminan buat kita semua. wallahu a’lam bishawab… #cintaallah #cintarasul #muslim

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah