AURAT SESAMA WANITA

Dijawab oleh ust Yulian Purnama

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman mengatakan: “Telah tersebar anggapan di masyarakat bahwa aurat wanita di depan wanita lain atau di depan lelaki yg menjadi mahramnya adalah antara pusar sampai lutut. Ini adalah sebuah kesalahan

Yang benar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat An Nuur

ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن

Dan seorang mukminah tidak boleh memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka

QS. An Nuur: 31

Dan seterusnya Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang yang termasuk mahram

Oleh karena itu yang diperbolehkan adalah memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan

Sedangkan bagian tubuh yang bukan tempat perhiasan tidak diperbolehkan memperlihatkannya kepada orang lain kecuali suaminya

Hal ini berdasarkan keumuman hadits

المرأة عورة

Wanita adalah aurat

Misalnya rambut, ia adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya (kepada wanita dan mahramnya). Begitu juga leher adalah tempat perhiasan, maka maka boleh ditampakkannya

Demikian juga telapak tangan, dan betis serta betis yang biasa diberi khul-khul (gelang kaki), maka boleh ditampakkan

Sedangkan menampakkan paha, dada, punggung atau semisalnya di depan wanita lain atau lelaki mahram, adalah perkara yang diharamkan

Demikian juga tidak diperbolehkan memakai pakaian yg masih menampakkan aurat, semisal celana panjang yang ketat atau pakaian yang tipis, di depan lelaki mahram

Sebaiknya wanita muslimah di depan lelaki mahram menggunakan pakaian sebagaimana yang digunakan ketika beraktifitas di dalam rumahnya, semisal gaun wanita yang panjangnya melebihi lutut, atau memakai celana panjang dengan gamis di atasnya, sehingga mengesankan lututnya bersambung, atau pakaian semacam itu

Inilah rasa malu yg wajib dimiliki oleh setiap wanita dan dijaga baik-baik

Fatawa Syaikh Mayshur Hasan Salman, fatwa no.71, Asy Syamilah

Jazakumullahu khayran

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Tiga Sunnah Yang Banyak Ditinggalkan

 Abu Hurairah -rodhiallohu anhu- mengatakan:

“Orang yang paling kucintai (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam), telah berwasiat kepadaku dengan tiga hal.

Aku tidak akan meninggalkannya hingga aku mati.

a. Puasa tiga hari di setiap bulan.

b. Shalat Dhuha.

c. Tidur dalam keadaan telah menjalankan shalat witir”

[Shahih Bukhari: 1178]

Sunnah yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian kita.. pertanyaannya, sudahkah kita mampu menerapkannya.

Jika yang terlihat sederhana saja belum kita mampui, bagaimana dengan sunnah-sunnah lainnya?

Mulailah dari yang kecil… karena banjir itu berasal dari titik-titik air yang berjatuhan.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sholat seperti orang mabuk

Bagi kita shalat adalah rutinitas yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sayangnya, rutinitas itu seringkali menjebak kita dalam aktivitas yang sekedar “gugur kewajiban” belaka. Maka, khasiat shalat sebagai pencegah segala bentuk kejahatan dan kemungkaran seringkali tidak tercapai.

Salah satu penyebabnya adalah karena sebagian dari kita sering shalat dalam keadaan seperti orang mabuk.

Sifat orang mabuk adalah bergerak, berbicara dan bertindak tanpa ada kesadaran. Orang mabuk tidak tahu apa yang diomongkan, bahkan mungkin tidak sadar kalau dirinya sedang ngomong. Gerakan tubuhnya pun acak tak terarah, tak jelas dan yang pasti, tidak disadarinya.

Jika kita shalat, tapi tanpa memahami apa yang kita ucapkan, tidak sadar dengan gerakan-gerakan yang sedang kita lakukan dalam shalat itu, maka kita seakan-akan orang mabuk. Apalagi, jika gerakannya pun muncul hanya sekedar reflek karena hafalan rutin, maka ibarat orang mabuk sedang senam saja.

Apa penyebabnya?

Karena pikiran kita tentang dunia masih berputar dikepala. Tubuh tegak berdiri dihadapanNya, namun hati dan pikiran jauh diluar sana.

Maka solusinya adalah, sholatlah dengan menghadirkan segenap hati dan jiwa kita dihadapanNya. Untuk sejenak, lupakanlah segala perkara dunia yang mungkin sedang kita kejar atau hadapi saat ini. Serahkan segalanya kepada Dia, sang Pengatur Segala Urusan. Tanamkan dalam diri bahwa segala kesibukan dunia, hanyalah selingan untuk menunggu datangnya waktu sholat.

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Makmum wajib mengikuti gerakan imam dalam shalat

Makmum wajib mengikuti gerakan imam dalam shalat dan tidak boleh mendahuluinya dalam semua gerakan; baik takbir, ruku’, sujud dan lain sebagainya, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفوا عَلَيْهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا.. متفق عليه .

Sesungguhnya imam itu untuk diikuti maka jangan menyelisihinya. Apabila ia takbir maka takbirlah. Dan apabila ruku maka rukulah, dan apabila ia mengucapkan samiallahu limanhamidah, maka ucapkan : rabbana walakal hamdu, dan apabila ia sujud maka sujudlah kalian.[Muttafaq ‘alaih]

Dan dalam hadits yang lain secara tegas Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang mendahului imam :

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

Apakah seseorang diantara kalian tidak takut apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan rubah bentuknya menjadi bentuk keledai ? [Muttafaq ‘Alaih]

Ketika menjelaskan hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Zhahir hadits ini menuntut diharamkannya mengangkat (kepala) sebelum imam (mengangkat kepalanya), karena perbuatan ini diancam dengan perubahan bentuk, sementara perubahan bentuk itu merupakan ancaman terberat. Inilah yang pilih oleh Imam Nawari rahimahullah dalam Syarhul Muhadzzab. Bersamaan dengan pendapat perbuatan itu haram, mayoritas Ulama (berpendapat) bahwa orang yang melakukan perbuatan tersebut berdosa dan shalatnya tetap sah.”

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Penerus Media Islam