Maaf jika selama ini pernah bersamamu dalam jalan kenistaan

Tak ada yang pantas untuk dipaksakan, karena semuanya sudah Allah tetapkan.

Jika kau sayang, mohon lepaskan.

Jika kau cinta, tolong tinggalkan.

Lanjutkan hidupmu, dan aku lanjutkan hidupku.

Tak perlu memaksa takdir berpihak pada kita, karena kendali atas kita tidak akan pernah Allah tukar untuk yang lain.

Cukup kita percaya bahwa tanpa menjalin cinta dalam sepasang kekasih akan menghantarkan kita pada cinta yang hakiki.

Tak akan lekang kebahagiaan bila kita putuskan untuk sendiri dulu,

Tak akan sulit jalani hari tanpa kita berdua,

Dan tak akan sia-sia bila kita tinggalkan semua karenaNya.

Tapi Sekarang, sudah saatnya aku yang meminta,

Silahkan pergi, kau sudah terlalu lama berdiri di depan pintu, jangan menghalangi, karena itu hanya akan menunda langkah kita mengejar mimpi-mimpi.

Saat ini biarlah,

Aku dan hidupku,

Kau dan hidupmu.

Maaf jika selama ini pernah bersamamu dalam jalan kenistaan.

Allah sayang kita, karena itu Ia pisahkan kita, demi pertemuan abadi bersama orang yang sudah pasti Ia persiapkan, atau mungkin bisa saja seseorang itu kamu.

Karena itu aku tak ingin mengganggu hatimu, begitu pula yang kumau darimu.

Selamat tinggal jahiliyah,

Selamat datang bahagia.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Pohon di surga

mari-kita-tanam-pohon-di-surga-mulai-dari-sekarang

Rasulullah SAW sudah membawa kabar gembira tentang surga. Tempat ini hanya bisa diraih ketika manusia melakukan amal baik saat menjalani kehidupan di dunia. Di dalamnya, ada begitu banyak kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kenikmatan surga yang dirasakan penduduknya tidaklah sama.  Ada ibadah-ibadah tententu   yanag harus dilakukan untuk bisa merasakan setiap keindahannya. Misalnya seperti memiliki pohon surga, maka manusia dianjurkan untuk melakukan ibadah ini.

Rasul mengatakan, jika satu kalimat dzikir ini setara dengan satu pohon di surga. Artinya ketika manusia mengucapkannya dengan tulus ikhlas saat hidup di dunia, maka baginya satu pohon surga. Kalimat dzikir apa yang dimaksud ? Berikut ulasannya.

Dzikir merupakan kalimat pujian untuk mengingat Allah SWT. Tidak hanya dengan mulut dan kata, namun harus diresapi di dalam di dalam hati setiap maknanya. Tidak hanya menyejukkan hati, kalimat dzikir sejatinya adalah bentuk ibadah kepada Allah. Menjalankannya merupakan bentu ketaatan. Balasannya tentu saja kasih sayang dari-Nya.

Surga merupakan kabar yang benar adanya. Allah sendiri lah yang mengatakan hal tersebut di dalam Qalam-Nya. Tidak terbantahkan, begitulah Alquran mengabarkan tentang keindahan surga.

Untuk mendapatkannya ibadah lah yang menjadi syarat utama. Manusia diperintahkan mengumpulkan bekal dengan melakukan ibadah saat hidup didunia. Salah satunya adalah dengan berdzikir kepada Allah SWT. Dzikir tertentu memiliki keeistimewaan tertentu.

Seperti dzikir berikut yang memiliki keistimewaan untuk menanam satu pohon di surga. Kalimat tersebut adalah Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar (Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan Allah Mahabesar)

Kisahnya adalah ketika Abu Hurairah sedang sibuk dengan aktivitasnya. Rasulullah SAW yang melihat aktivitasnya kemudian bertanya  “Wahai Abu Hurairah, apa yang engkau tanam?” Mendapat pertanyaan dari orang yang paling dicintainya itu, Abu Hurairah menjawab santun, “Sebuah tanaman milikku, ya Rasulullah.”

Nabi Allah ini kemudian memperhatikan sahabatnya itu. Beliau kemudian menawarkan sesuatu yang begitu indah, “Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu tanaman yang jauh lebih baik bagimu dari apa yang kau tanam?” Mendapat tawaran nan menggiurkan dari Sang Nabi, Abu Hurairah menjawab antusias, “Tentu saja, wahai Rasulullah.”

“Ucapkanlah,” sabda manusia junjungan itu, “Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar (Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan Allah Mahabesar)”

Tutup beliau mengkahiri sabdanya yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah dan Imam al-Hakim, “Setiap bacaan kalimat ini akan menumbuhkan satu pohon untukmu di surga.”

Sangat mudah bukan? Hanya membutuhkan sedikit waktu, namun begitu indah hadiah yang diberikan Allah kepada kita. Semoga, kita senantiasa bisa mengucapkannya meski dengan  kesibukan mendera setiap harinya.

Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Saat Anjing pun Murka pada Penghina Nabi

AL-IMAM Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah bercerita dalam kitabnya:

Pernah suatu hari ada sekelompok orang dari kalangan pembesar Nashrani menghadiri sebuah perayaan seorang pemimpin Mongol yang telah murtad (menjadi Nashrani).

Dan pada perayaan itu ada seorang pendeta yang menghina Nabi SAW, sedangkan di sana ada seekor anjing pemburu yang terikat.

Maka saat si penyembah salib yang dengki ini mulai mencela Nabi SAW, anjing tersebut menggonggong dengan keras lalu kemudian menerkam si Nashrani itu dan mencakar wajahnya.

Maka orang-orang yang melihatnya terkejut dan segera berusaha menyelamatkannya. Lantas sebagian orang yang hadir berkata: “Itu diakibatkan hinaanmu kepada Muhammad SAW.”

Lantas si Nashrani berkata: “Tidak, anjing ini hanya spontanitas karena melihat isyarat tanganku dan disangkanya aku ingin memukulnya.”

Namun kemudian Si Nashrani ini mengulang kembali celaannya terhadap Nabi SAW dengan perkataannya yang sangat keji. Maka si anjing pun berhasil lepas dari ikatannya dan langsung saja menyambar leher si Nashrani itu dan merobek hingga bagian dadanya yang paling atas,Orang itu pun mati seketika.

Karena kejadian ini, ada sekitar 40.000 orang Mongol masuk Islam.

Di zaman kita, apakah anjing lebih mulia dan lebih pemberani daripada manusia?

(Al Haafidz Imam Ibnu Hajar Al Asqolany di dalam kitab “AdDurarurl Kaaminah Fi A’ayaanil Miati Tsaaminah” Jilid 4 Halaman 153).

قصة الكلاب الذى انقض على النصراني الذى شتم النبي

ابن حجر العسقلاني

أَن بعض أُمَرَاء الْمغل تنصر فَحَضَرَ عِنْده جمَاعَة من كبار النَّصَارَى والمغل فَجعل وَاحِد مِنْهُم ينتقص النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَهُنَاكَ كلب صيد مربوط فَلَمَّا أَكثر من ذَلِك وثب عَلَيْهِ الْكَلْب فخمشه فخلصوه مِنْهُ وَقَالَ بعض من حضر هَذَا بكلامك فِي مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَقَالَ كلا بل هَذَا الْكَلْب عَزِيز النَّفس وَآل أُشير بيَدي فَظن أَنِّي أُرِيد أَن أضربه ثمَّ عَاد إِلَى مَا كَانَ فِيهِ فَأطَال فَوَثَبَ الْكَلْب مرّة أُخْرَى فَقبض على زردمته فقلعها فَمَاتَ من حِينه فَأسلم بِسَبَب ذَلِك نَحْو أَرْبَعِينَ ألفا من الْمغل

ابن حجر العسقلاني، الدرر الكامنة في أعيان المائة الثامنة، ت محمد عبد المعيد ضان، مجلس دائرة المعارف العثمانية، صيدر اباد – الهند، الطبعة الثانية 1392هـ/ 1972م ج 4 ص 153.

“Jangan sampai seekor anjing masih lebih mulia karena membela kehormatan Nabi SAW, dibanding yang mengaku muslim tapi membela penghina Al-Qur’an.”

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Hebatnya Rasulullah SAW Mendidik Puterinya Fatimah Az Zahra

Baju Yang Dipakai Rasulullah Dan Puterinya. Lihat !!

cekeecx1lz

Saiyyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu… merupakan menantu kesayangan Nabi saw dan isterinya, Fatimah Az-Zahra pula merupakan puteri kesayangan Nabi saw,jika diikutkan budaya dan trend masyarakat moden hari ini maka kedudukan mereka sebagai anak dan menantu kepada Nabi saw seorang pemimipin. seseorang yang berkuasa, yang memegang pemerintahan, yang memegang kekayaan negara sudah pasti mereka berdua hidup di dalam kemewahan dengan harta yang berlimpah.

Namun perkara itu tidak berlaku kepada puteri dan menantu Nabi saw. apabila ada riwayat yang menyatakan bahawa mereka berdua hidup di dalam serba kesederhanaan dan adakalanya berlapar perut kerana ketiadaan makanan.

Imam At-Tabari di dalam kitabnya Al-Ausad ada meriwayatkan suatu hadis :

Menurut cerita Imran bin Husain, Pernah satu hari, Fatimah r.anha muncul di hadapan Rasulullah dengan wajah kekuning-kuningan dan pucat akibat kelaparan. Rasulullah lalu berkata, “Mari ke mari mendekati aku wahai Fatimah.”

Kemudian Baginda saw berdoa, “Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”

Imran kemudian menyatakan, “Darah tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya. dan pucat di wajahnya”

Begitulah keadaan puteri nabi saw yang merasa lapar kerana menjaga dirinya agar tidak mengambil hak yang bukan miliknya.kerana sifat kenyang itu selalunya melupakan kita dengan Allah lantaran nafsu yang membiak dengan makanan yang lazat dan mewah.

Di dalam satu riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani..dengan sanadnya datang daripada Saidina Hussin daripada Fatimah r.anha

Suatu hari Rasulullah saw datang mengunjungi Fatimah, dan mencari cucu-cucunyalalu baginda bertanya:

Di mana cucu-cucuku?

Saiyidatina Fatimah menjawab,

“Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah kami yang dapat dimakan, sehinggakan Ali mengatakan,’Saya akan pergi dengan Hassan dan Hussin ke rumah seorang Yahudi.”(untuk mengambil upah menceduk air dan bayarannya satu cebok air sebiji kurma) kerana aku takut sekiranya anak- anak kita ini menangis sedangkan tiada apa yang boleh kita berikan untuk mereka makan.

Rasulullah kemudian menyusul mereka dan melihat kedua cucunya sedang bermain dengan sisa kurma. Rasulullah saw bertanya,

“Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh kedua cucuku ini pulang sebelum mereka kepanasan?”

Saiyyidina Ali menjawab,

“Pagi ini tak ada sesuatu pun yang boleh kami makan di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, sehingga selesai kerjaku dan aku dapat mengumpulkan buah tamar hasil dari upahku mengangkat air untuk diberikan kepada Fatimah?”

Begitulah yang dilakukan Ali bin Abi Thalib, pejuang Islam yang perkasa, menantu kepada pemimpin yang berkuasa . Ia tidak merasa segan menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia akan mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul buah kurma yang mencukupi untuk dia dan keluarganya, dia pun pulang ke rumah.

Saidina Ali r.a menantu kesayangan Nabi saw , mungkin boleh meminta daripada nabi saw agar ayah mertuanya yaitu Nabi saw memberikannya kekayaan dari sumber Negara, .mungkin dari harta baitul mal atau apa saja peluang dan ruang yang boleh digunakan  kedudukannya yang dekat dengan Nabi saw, namun peluang itu tidak digunakan oleh Saiyidna Ali kerana beliau seorang sahabat dan menantu nabi saw yang beriman dan bertaqwa,tidak mungkin baginya membuat sesuatu yang menjadi kemurkaan Allah dengan mengambil harta yang bukan haknya.

Imam Al-Ghazali pula ada meriwayatkan tentang suatu kisah di mana

suatu hari Rasulullah pergi bermusafir. Di saat itu pula Saiyidina Ali r.a baru mendapat ghanimah (harta rampasan perang), lalu membawanya kepada Saiyidatina Fatimah.

Harta rampasan perang itu memang menjadi hak Saiyidina Ali sebagaimana yang ditetapkan oleh Islam maka Saiyidina Ali telah memberikan dua gelang perak kepada isterinya yang tercinta itu,begitu juga Saiyidatina Fatimah menggantungkan kain tirai hasil rampasan perang di atas daun pintu rumah mereka.

Apabila Nabi saw pulang dari musafirnya dan memang menjadi salah satu kebiasaan Rasulullah ketika pulang daripada musafirnya adalah.Baginda saw selalu singgah ke rumah puterinya yang tercinta Saiyidatina Fatimah .

Apabila Baginda saw melihat di kedua pergelangan tangan Fatimah puterinya itu dua utas gelang perak, Baginda saw merasa kurang senang lalu keluar meninggalkan rumah puterinya itu.

Saiyidatina Fatimah yang menyedari gelagat ayahnya itu menangis teresak-esak kerana yakin yang dirinya yang telah menyakiti perasaan ayahandanya yang amat tercinta itu..Lalu Saiyidatina Fatimah pun memanggil Hasan dan Husein. Diberikannya kepada mereka gelang perak dan tirai baru yang didapatinya dari Saiyidina Ali, lalu disuruh kepada kedua puteranya untuk menyampaikannya kepada Rasulullah saw

Fatimah Az-Zahra berpesan, “Pergilah kalian ke tempat ayahku, ucapkan salam kepadanya dan katakan kepadanya, ’Kami tidak akan melakukannya lagi, dan ini kami serahkan kepadamu.”

Apabila Rasulullah saw menerima pesanan tersebut, ia pun mencium kedua cucunya, memeluk mereka, lalu mendudukkan mereka masing-masing di atas pahanya.

Lalu gelang perak itu dibahagi-bahagikan kepada sekelompok Muhajirin yang tak punya tempat tinggal dan harta.

Sedangkan tirai itu pula dibahagikan kepada rakyat Nabi saw lantaran ada diantara mereka yang tidak berpakaian.

Kemudian Rasulullah berdoa, “Allah mengasihi puteriku Fatimah. Sungguh Allah akan memberikan kepadanya pakaian syurga dengan sebab tirai ini, dan akan memberinya perhiasan syurga dengan sebab kedua gelang ini.

Begitulah hebatnya Nabi saw mendidik puterinya dan menantu baginda agar tidak menginginkan kekayaan dan kemewahan dengan kuasa dan pangkat yang diberikan oleh Allah jangan disalah gunakan untuk mengumpul kekayaan di atas penderitaan rakyat yang miskin dan berkaki ayam serta tidak berpakaian.

 

Sumber :  @Line Teladan Rasulullah

Penerus Media Islam